Showing posts with label Hanna. Show all posts
Showing posts with label Hanna. Show all posts

Wednesday, October 21, 2015

KOMUNAL.IS.ME - Hanna Enka (Jadilah bagian dari #KomunalismeFestival2015)


KO.LA.BO.RA.SI narative (kata benda) (perbuatan) Kerja sama dengan orang lain, musuh dsb.

KO.LA.BOR narative (kata benda) orang yang bekerja sama dengan orang lain, musuh dsb.

AK.SI narative (kata benda) gerakan; sikap; tindakan.
Adjektiva (kata sifat) Cakapan (bahasa tidak baku)

KO.MU.NAL.IS.ME narative (kata benda) Paham atau ideologi yang mementingkan kelompok atau kebersamaan di dalam sebuah kelompok.

-------------------------


Sekilas penjelasan tentang gambar ini, Semuanya ada artinya. Semoga bisa tersampaikan dengan baik dan membuat kita tergerak untuk berkarya dan agar tidak berhenti cukup sampai di sini.

- Bandana Merah. (Tandanya berani - karena kita, walau wanita harus berani berbuat untuk kota) - maaf karena tidak kontras karena aku gambarnya di atas kertas kalkir.

- Kenapa kalkir? Mungkin karena ya, menyesuaikan lebih mudah mengaplikasikannya karena bisa tembus pandang. Tapi, kalau dari segi imajinatif - saya malah berpikir kalau karya itu selayaknya kalkir, sangat bernilai. Mungkin lempek, dan terlihat seperti kertas murahan. Tapi sebenarnya, dari segi teknik terlihat bahwa sesungguhnya selain mahal, kalkir justru menyimpan perjuangan keras seorang seniman/pekerja dalam sebuah karya. (re: contoh arsitek).

- Gambar wanita muda yang memegang logo komunal - memberikan arti kalau saya ingin menjadi bagian dalam lingkaran itu. Berharap, perempuan-perempuan lain juga terinspirasi dan berbuat sama. Bahwa dunia yang indah berwarna bukan hanya tentang beragam warna gincu, tetapi tentang bagaimana berekspresi lewat karya seni (dalam bentuk apa pun.)

- Beberapa tulisan yang saya kutip dari kamus. Arti kata Komunalisme, kolaborator, kolaborasi dan aksi. (Asalnya sih karena saya penulis ya harapnya tidak menghilangkan sosok itu dari dalam diri karya saya hehe...)

- Baju yang bermotif Pancasila (hasil kreasi uang logam - aku juga heran bisa terinspirasi dari sana hehe) ya kita berbuat untuk kemajuan kota, untuk negeri, dan bagian Indonesia. Tahu apa arti Pancasila kan? Bhineka tunggal Ika - berbeda-beda tetapi tetap satu jua!

- Ada motif koran. Saya mengimajinasikan koran sebagai media untuk menyuarakan aspirasi. Maka semoga, harapan kita, keinginan serta impian kita untuk daerah/negeri ini bisa tersuarakan dan tersampaikan dengan baik.  (kebetulan Saya juga sedang menggeluti dunia ini, bersama #shoutyouth)

- "SATU SUARA UNTUK UNITY. SAYA KOLABORATOR, BERKOLABORASI DALAM SATU AKSI. SAYA PEDULI!!" - saya adalah satu suara dari sekian banyak anak muda yang melantangkan semangat komunitas. Karya ini, semoga bisa menjadi bukti akan keinginan saya berkontribusi, berpartisipasi dan ikut menyerukan semangat kita tentang kolaborasi dalam satu aksi tanpa memandang perbedaan sebagai deskriminasi tetapi menjadi satu hal yang memotivasi dan menjadikan kita satu dalam berbedaan yang berarti.

Panjaaaaaang ya. Hehe. Mungkin sedikit lebay, dan alay~

Apalah arti karya kecil semacam ini. Saya tidak ingin dinilai terlalu sok. Hanya saja, kapan lagi saya bisa membuat ini. Full time mother and wife dan Part time untuk menjadi seseorang yang saya mau. Semoga lewat karya bisa tersampaikan bahwa saya pun ingin ikut bekerja.

Makanya saya niat sekali sampai saya pikirkan sedetail ini. 

Sumbang karya, sama dengan meletakkan satu suara dalam semangat yang sama bagi saya. Saya tidak pandai bicara, tapi semoga ini bisa menjadi sesuatu - termasuk kebanggaan untuk saya karena karya saya bisa bersanding dengan kalian orang-orang hebat kota palu nantinya (re: #KomunalismeFestival2015.)

Terima kasih ya, untuk kakak kakak semua. Karya ini terlihat girly, childish gitu ya... Haha... Maklum saya masih remaja 😂😂😂 hehe.... Salam untuk semua para kolaborator. Semoga kita bisa saling menginspirasi 😘😘😘

#Masterpiece 

----------------------

KOMUNAL.IS.ME narative (kata benda) semangat. Menjadi suatu bagian dari sebuah kelompok untuk satu tujuan yang sama. Mengubah perbedaan menjadi kolaborasi yang mempersatukan. Bagian itu, adalah saya.

-----------------------------

Seberapa berharga sebuah karya? Semua ternilai dari bagaimana seseorang itu membuatnya, memikirkan alasan mengapa Ia membuatnya dan arti daripada karya yang Ia ciptakan. Termasuk tentang bagaimana cara orang lain untuk memandang karya seni itu dalam penghargaan sebuah usaha. - NK


Thursday, June 25, 2015

Ilana Tan - Sosok penulis yang sejati

Berkelana menjelajah waktu, memutar berbagai cerita dari setiap sudut tempat dan mengenal berbagai jenis orang. Aku terhenti pada dia, sosok penulis romantisme kuno, legendaris dan misterius. Legendaris karena berhasil memicu hormon bakatku dalam ikut berkarya dalam kata dan berkarier dalam dunia menulis.

Ilana Tan, merupakan sosok penulis yang sejati. Mengapa?

Aku teringat tentang ucapanku beberapa waktu yang lalu, tentang - setiap penulis punya latar belakang mereka sendiri-sendiri mengapa terjun ke dunia itu. Ada karena menyalurkan hobi, berkarya atau sebagai tempat bercerita, kabur dari kenyataan pahit kehidupan. Dan yaaaaa.... Ilana Tan mampu menghidupkan sosok penulis yang sebenar-benarnya.

Mungkin semakin berjalannya zaman, penulis pun kian modern. Dikenal oleh pembaca dan khalayak banyak merupakan hal yang lebih baik dari apa pun. Tetapi, Ilana Tan mampu menghadirkan sesuatu yang baru. Mengunci identitas dirinya dan membuat semua orang bertanya akan kemisteriusannya.

Pernah kamu menonton film Nim's Island?

Aku jatuh cinta pada sosok Alex Rover, sang penulis cerita petualangan yang menulis buku best Seller dalam film itu. Tahukah? Tokoh utama laki-laki dalam cerita, sang pahlawan petualangan itu yang bernama Alex Rover sesungguhnya adalah seorang wanita dengan nama lengkap Alexandra Rover.

Dia adalah seorang yang tidak dikenal. Tertutup dan misterius. Tepatnya, dia sangat introvert. Kisah petualangan yang Ia kisah kan di dalam bukunya tidak pernah benar-benar terjadi di hidupnya. Sebatas layar datar elektronik dan media Internet. Ia hanya menjelajah sebatas itu. 

Ia tak pernah berjumpa orang lain. Hanya sebatas wilayah apartemennya dan tak melewati teritori itu. Selalu menggunakan Hand sanitizer dalam jumlah yang tidak sedikit dan menulis dengan membuat lingkungannya senyaman mungkin.

Mungkin mereka sama. Dan karena itulah aku jatuh cinta pada keduanya. 

Hidup yang didedikasikan untuk menulis dan bukan mengejar popularitas. Mereka - keduanya - membatasi diri untuk membuat zona menulis dan imajinasi itu berbaur dengan alami. Sehingga, menulis tanpa dikenal dan diketahui wujud aslinya, membuat mereka bisa berkelana Kemana pun membawa cerita dan tokoh utama dalam kisahnya mampu mengalirkan kita pada kisah yang alami.

Sungguh, berharap suatu hari aku bisa bertemu Ilana Tan. Seperti halnya aku berharap, Alex Rover itu merupakan wujud penulis yang nyata.

Hasilnya, kita sama-sama menulis, mengidolakan banyak penulis dengan berbagai kisah sejarah dan latar belakang dan punya cerita kita masing-masing mengapa terjun ke dunia itu.

Intinya adalah kita menulis karena kita ingin bercerita. Kita ingin berbagi dan berkisah. Kepada siapa pun, orang-orang dan dunia. Tentang kisah nyata atau nyata dalam imajinasi kita. Setidaknya menulis itu membuat kita hidup. Karena goresan kata yang mampu mengerti setiap alunan perasaan dari kita yang memegang pena dan mengetik keyboard - penulis.

------------------------------------------
HANNA ENKA

Sunday, May 31, 2015

PATAHAN YANG TAK TERJAMAH OLEH WAKTU (Prolog) - Hanna Enka

Pengantar:
Hai!
Selamat datang bulan Juni. Lagi-lagi, seperti waktu yang terulang dan yang sudah-sudah, kita akan selalu menyambut bulan baru, dengan berbagai resolusi-resolusi guna membuat waktu yang berjalan ini lebih efektif dengan berbagai banyak hal yang masuk dalam daftar apa yang akan kita kerjakan. Tepatnya adalah, resolusi membuat hidup kita berjalan dalam gelombang dan tidak datar-datar saja.

Kali ini, saya meniti kesempatan untuk bergabung bersama nulisbuku dan kegiatan kreatif mereka, nulisrandom. Harapannya adalah dalam waktu sebulan, sama seperti bulannarasi dulu, semoga saya bisa menghasilkan satu buku melalui tulisan-tulisan yang saya kerjakan di blog ini ya.

Saya terinspirasi dari serial terbaru penerbit gagasmedia, tentang Indonesiana. Maka kali ini, saya akan membuat kisah untuk mengisi salah satu kota dalam negeri merah putih tercinta ini, dengan menjamah kota kelahiran saya dan tempat saya bertumbuh.

Selamat membaca. Dan selamat menulis untuk kamu para calon-calon penulis masa depan dan para kamu pemberani yang menyukai tantangan yang mengasah kemampuan. Semoga impian kita semua tercapai seiring dengan karya yang kita ciptakan.

----------------------------

PATAHAN YANG TAK TERJAMAH OLEH WAKTU
HANNA ENKA

P R O L O G

Sendu.

Gadis itu duduk di sudut ruang kamarnya, sembari melongok, menatap kosong keluar jendela yang ia biarkan terbuka lebar. Suara rintik hujan terdengar seirama dengan nada ketukan yang berurut. Ia semakin larut dalam lamunannya akan kesedihan. Aroma tanah yang basah menggantung di udara seisi kamarnya.

Ia termangu, terbelenggu oleh asa. Kadang, tangisan histerisnya selalu muncul di sela-sela kenangan pahitnya yang telah berlalu. Sesadis ini Tuhan mengutus takdir menghampirinya. Di sekian banyak anak perempuan di luar sana, ia harus menjadi salah satunya yang dikutuk oleh kehidupan.

Tak ada yang menjamin, menjadi orang baik di dunia, maka hidup pun akan baik hingga kau mengakhiri kehidupan, pikirnya seringkali. Penyesalan untuk menjadi orang baik selalu muncul di benaknya sesekali.

Bukan ia membenci anak yang dikandungnya. Atau tak terima karena Tuhan menganugerahkan takdir menjadi seorang wanita kepadanya. Hanya saja, luka, perih yang ia rasa. Kebencian meraung-raung dalam jiwanya.

Tentang takdir yang harus ia telan pahit-pahit. Ketika harus mengandung anak dari ayahnya sendiri.

--------------------------------------

Sunday, August 17, 2014

Review buku Made Of Stars - Hana Krisviana


Ilustrasi : Bella Divanda

Judul : Made of Stars
Penulis : Han Krisviana
Editor : Jia Effendie
Proofreader : Mita M. Supardi
Penata letak : Gita Ramayudha
Ilustrasi isi : Diani Apsari
Desain cover : Diani Apsari
Ilustrasi cover : Diani Apsari
Penerbit : Gagas Media
Terbit : 2013
Tebal : x + 270 hlm.
ISBN : 978-979-780-684-2

SINOPSIS:

Dahulu, harapan aadalah sesuatu yang menakutkan bagiku. Tak terhitung berapa kali dia membuatku kecewa dan kehilangan semangat hidup. 

Namun, bintang jatuh yang melintas di langit Roma malam itu mengabulkan keinginan hatiku. Sesuatu yang selama ini kutahan di dalam mulutku, sesuatu yang tak pernah kuucapkan keras-keras, didengarkan oleh sebentuk bintang mati. 

Dia pun datang. 

Seseorang yang hanya hadir sebagai kembang tidurku, kini menjelma malaikat tanpa sayap. Dia yang melengkungkan senyum di bibirku, dan menyebarkan hangat di beku hatiku. Dia membuatku berharap lagi....

•••

"Hope is the thing with feathers
That perches in the soul,
And sings the tune without the words,
And never stops at all,

And sweetest in the gale is heard;
And sore must be the storm
That could abash the little bird
That kept so many warm.

I've heard it in the chilliest land
And on the strangest sea;
Yet, never, in extremity,
It asked a crumb of me."

EMILY DICKINSON 

•••

Aubrey Voerman. Gadis yang pindah ke Roma dan tinggal dengan kakeknya setelah ibunya meninggal karena overdosis obat tidur dan alkohol. Gadis ini selalu menutup diri dari dunia luar, bahkan pada kekasihnya sekali pun. Bree, begitulah sapaannya.

Frans Voerman, adalah Seorang pensiunan duta besar yang beralih profesi menjadi chef. Kakek Voerman adalah satu-satunya keluarga yang sudi menampung Bree. Penghasilannya yang tinggal seorang diri lebih dari cukup untuk menghidupi mereka berdua.

Zach Morette. Laki-laki yang tampan. Bree dan Zach sudah berpacaran dua tahun. Sekilas, mereka terlihat sebagai pasangan yang sangat serasi. Zach terlihat kalem namun cuek. Sebelum menjadi pacar Bree, Zach adalah teman pertamanya begitu pertama kali menginjakkan kaki di Istituto Pontificio Sant'Apollinare.

Milo Cassini, adalah anak Lucrezia, calon kakak tiri Zach Morette. Ayah Zach dan ibu Milo sudah empat tahun tinggal serumah. Mereka berencana untuk menikah dalam beberapa bulan ke depan. Milo identik dengan semua hal buruk. Tapi setelah kecelakaan, semuanya berubah 180 derajat. 

Anael. Malaikat pelindung bagi Aubrey. Dia selalu berada di dekat gadis itu walaupun dengan wujudnya yang lain.

•••

Cerita bermula dari sosok Aubrey Voerman yang sebut saja masih
dalam keadaan berkabung setelah ditinggalkan oleh ibunya. Bree pindah ke Roma untuk tinggal bersama kakeknya. 
Ditemani angin musim gugur yang berembus, Bree memperhatikan ketiga anak kecil yang berlarian di depannya. Hingga akhirnya salah satu dari mereka, Clara seketika teralih ketika matanya menangkap sebentuk cahaya yang menoreh kelamnya langit malam dengan kilatan. Aubrey ikut memandangi langit malam. Pada saat sebuah bintang jatuh melintas dilangit yang gelap, anak-anak itu mulai
berteriak dan kemudian memanjatkan harapannya. Karena menurut mereka, harapan mereka akan terkabulkan jika memohon saat ada bintang jatuh. Salah satu anak juga meminta Aubrey membuat permohonan. Awalnya Aubrey menolak secara halus, tapi kemudian ia akhirnya memanjakan permohonan juga. Dan ia berharap, permohonannya itu bisa terkabul.

Zach Morette, sedang bersantai kala itu. Ia mengabaikan telepon yang sudah berdering ke sekian kalinya. Jika saja calon ibu tirinya tidak berteriak dari dapur, ia tidak akan sudi beranjak dari sana. Zach tahu, jika calon ibu tirinya sudah mulai mengomel, ia tidak akan bisa menghindar. Dan saat menempelkan gagang telpon ke telinganya, ia langsung diserang cercaaan ayahnya dan kabar buruk baginya, dan juga calon ibu tirinya. Milo Casini, anak dari calon ibunya yang selama empat tahun terakhir hidup bersamanya dalam satu atap kecelakaan dan kondisinya cukup parah.

Setibanya di rumah sakit, Zach dan Lucrezia, ibu Milo, hanya bisa melihat tim dokter mulai mengerumuni Milo. Tim dokter dengan alat kejut jantungnya sudah siap dengan hitungan satu, dua, tiganya. Tim dokter melakukan beberapa kali prosedur alat kejut jantung, hingga mereka kemudian hilang harapan. Kecelakaan yang menimpa Milo benar-
benar parah. Saat salah satu dokter mulai menatap keluar tepat ke langit Roma, ia melihat bintang jatuh bergerak cepat di langit yang hitam pekat. Di sanalah ia menitipkan sebuah harapan. Harapan agar Milo berhasil di selamatkan. Dan itu benar-benar terjadi. Detak jantung Milo kemudian mulai terdeteksi. Milo selamat.

Bree, sapaan akrab Aubrey Voerman, adalah kekasih Zach Morette. Status hubungan mereka mungkin adalah kekasih. Tapi Bree sudah tidak merasakan ada percik cinta lagi di antara mereka beberapa waktu terakhir ini. Hubungan mereka hanya sebatas status saja sekarang. Zach lebih memilih mengabiskan waktu bersama dengan teman-temannya. Aubrey tidak mempermasalahkan itu, dan menjalani semuanya dengan santai. Toh nantinya dia juga akan segera mengetahui akhirnya.

Keduanya tengah disibukkan dengan jadwal latihan pertunjukkan mereka. Zach dan Aubrey sendiri terpilih menjadi pemeran utama setelah melakukan seleksi langsung yang dinilai langsung oleh para guru. Tapi, ada satu orang yang tidak senang jika Aubrey yang memerankan tokoh utama wanitanya. Dia adalah Allegra. Gadis itu bahkan membawa serta ayahnya untuk melakukan protes. Tapi setelah Aubrey membuktikan bahwa ia pantas mendapat peran utama, Allegra bahkan ayahnya tidak berkomentar apa-apa. Akan tetapi, tetap saja, gadis itu tidak akan diam saja saat peran yang harusnya dimainkan olehnya direbut oleh Aubrey.

Milo Cassini. Setelah perjuangan panjang setelah kecelakaan itu, akhirnya dia sadarkan diri. Luka akibat kecelakaan fatal itu juga sembuh begitu cepat. Tim dokter yang menangani Milo benar-benar merasa aneh dengan laki-laki itu. Walaupun tidak ada sesuatu yang buruk terjadi pada Milo, kecelakaan tetaplah kecelakaan yang walaupun hanya sedikit, pasti berdampak pada yang mengalaminya. Milo hilang ingatan. Semua ingatannya di dunia ini terlupakan tanpa sisa.

Bree yang berencana menjenguk Milo ke rumah sakit bersama dengan Zach merasa sedikit aneh saat semua orang mengatakan bahwa Milo adalah sosok laki-laki buruk dan menakutkan. Tapi sosok yang tengah ada di hadapannya kini, benar-benar sosok yang berbeda. Dia adalah sosok yang bisa memberi kehangatan pada Aubrey bahkan saat Zach sendiri tidak bisa memberikannya. Pertemuan
singkat di atap rumah sakit itu membuat Aubrey yakin bahwa Milo tidak seperti yang diceritakan Zach ataupun orang lain. 

Sejak pertemuannya saat itu, Milo terlihat sering menemui Aubrey dengan sengaja. Di hari pertemuan mereka yang pertama, Milo pernah membawakan bunga dandelion yang sudah gundul. Saat Aubrey tanya bagaimana mungkin Milo membawakan bunga dandelion yang gundul untuknya, laki-laki itu hanya menjawab, dia sudah menerbangkan serbuk bunga dandelion yang membuat permohonan untuk gadis itu. Permohonan agar Aubrey selalu bahagia dan mendapatkan hari yang menyenangkan. Bree terkesan. Ia bahkan tidak pernah menyangka, Milo, laki-laki yang belum Ia kenal mau susah-susah meniupkan dandelion hanya untuk mengharapkan harinya menyenangkan.

Hari demi hari, mereka terlihat semakin dekat. Hingga Zach yang merupakan kekasih Aubrey mulai tidak sabar dan kesal. Ia melampiaskannya pada Aubrey. Kerumitan hubungan mereka akhirnya dipecahkan oleh Aubrey sendiri. Ia mulai mengatakan apa yang ia rasakan selama ini ketika Ia berpacaran dengan Zach. Dan laki-laki itu juga mengemukakan alasan yang sama dengan Aubrey yang membuat gadis itu mengernyit. Aubrey tidak pernah berniat seperti itu. Jika saja bukan karena suatu hal yang harus Ia tutupi rapat-rapat, Aubrey tidak akan membangun benteng pertahanan begitu kuat untuk hubungannya dengan Zach. Tapi ia benar-benar sudah tidak bisa lagi mempertahankan hubungan itu.

Di sisi lain juga, Aubrey mulai menyadari bahwa perlahan-lahan ia mulai merasakan hangatnya kasih sayang saat bersama dengan Milo. Laki-laki itu seakan memberikan kenyamanan yang biasanya hanya ia dapatkan dari sosok yang selalu muncul dalam mimpinya. Sosok yang belakangan tidak pernah muncul lagi. Sosok yang mengingatkan Aubrey akan Milo yang sering berada di dekatnya.

Lalu bagaimana Aubrey akan menghadapi kenyataan yang selama ini berusaha ia sembunyikan?

Ketika Allegra menjebaknya dengan tuduhan menggunakan obat-instan terlarang hingga membuatnya harus berhenti dari peran yang akan Ia mainkan di drama. Ketika semua orang tahu tentang dirinya yang sebenarnya. Ketika semua orang mengetahui rahasia yang selalu ingin Ia sembunyikan rapat-rapat jauh dari siapa pun di muka bumi ini. 

Bagaimanakah kelanjutan hubungan Bree dan Zach? Masihkah laki-laki itu mau bertemu dirinya sekalipun tahu kebenaran pahit yang selalu Ia rahasia kan, selalu Ia tutupi yang merupakan alasan mengapa Ia selalu menghindari agar orang lain tahu lebih banyak tentang dirinya.

Kemanakah sosok malaikat yang selalu berada disisi Bree di kala gadis itu sedang sedih dan terpuruk? Apakah Tuhan mengirimnya melalui sosok Milo yang selalu membuat hatinya menjadi lebih baik bilang berada di sebelahnya?

Lantas, bagaimanakah dengan harapan Bree? Apakah bintang jatuh itu mendengarkannya?

Bagaimanakah ketika waktu milik Bree terhenti? Ketika Ia seakan nyaris berlalu meninggalkan dunia fana ini. Berbagai kenangan datang menghiburnya, berharap gadis itu bisa segera terbangun dan tersenyum mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja.  Ketika saat itu tiba, apakah harapan yang selalu Ia ragukan itu benar-benar bisa membuatnya kembali?

'jangan berdiri di samping kuburanku dan menangis; 
Aku tidak ada di sana. Aku tidak tertidur.
Aku adalah ribuan angin yang bertiup.
Aku adalah kilauan kristal yang gemerlap di atas salju.
Aku adalah sinar mentari yang menyentuh gandum yang baru menguning.
Aku adalah hujan di musim gugur yang lembut.
Ketika kau terbangun dalam pagi yang hening, 
Aku adalah burung-burung tenang yang terbang mengitar dalam ketergesaan.
Aku adalah bintang lembut yang bersinar saat malam hari. 
Jangan berdiri di samping kuburanku dan menangis; 
Aku tidak ada di sana. Aku tidak pernah mati.'

DO NOT STAND AT MY GRAVE AND WEEP, puisi Mary Elizabeth Frye. (terjm. Bebas)

•••

MADE OF STARS. Aku suka sekali dengan cerita ini. Penulisnya adalah Hana krisviana. Setidaknya kami memiliki nama panggilan yang nyaris mirip. Covernya cantik sekali. Warna biru sendu yang menawan. Menggambarkan tempat di Roma yang khas dengan langit biru berbintang yang menyatu. 

Penguasaan settingnya baik. Kita serasa diajak masuk ke dalam cerita dan ikut merasakan perjalanan di kota Roma. Aku bener-bener serasa masuk ke dalam cerita. Berada di antara Bree, ataupun Milo ah Anael. Ya, Anael yang merupakan malaikat penjaga. Siapa yang menyangka akan ada kisah begitu menyentuh yang ditorehkan oleh sang protector? Seandainya bisa meminta, aku juga ingin memiliki Anael untuk menemani hari-hariku.

Setelah membaca buku ini, rasanya aku yang suka dengan hal-hal berbau dongeng, tentang bintang jatuh dan harapan itu seperti yakin, bahwa siapa yang mengira kalau mungkin saja langit bisa mendengar.

Buku ini RECOMMENDED banget! Jangan bilang kamu pecinta novel kalau ga punya buku ini.

Awal yang mengejutkan dengan akhir yang tak terduga. Kisah perjalanan seorang anak perempuan yang tegar dan walaupun hidup dalam keraguan Tetapi tetap percaya bahwa harapan itu masih ada dan pasti ada.

Mari berharap pada bintang.
HANNA ENKA
Twitter : @hannaaabelle

Thursday, August 7, 2014

Seberapa erat hubungan media sosial dengan anak muda Indonesia?

Saya ingin membahas seputar media sosial dan anak muda Indonesia. Kedua elemen ini memiliki kaitan yang erat hubungannya satu sama lain. Anak-anak muda Indonesia, berkembang dari situs jejaring sosial. Entah itu Facebook, Twitter, blog, tumblr dan masih banyak lagi. Baik dalam bentuk visual, audiosonal, dan tulisan. 




Saya tertarik untuk membahas ini karena sebenarnya, media sosial juga terkadang membawa masalah dikalangan anak-anak muda. Tentu saja, akrab kita jumpai, seperti perselisihan hanya karena perbedaan pendapat.

Pada saat bicara tentang politik, tentu saja, efeknya akan lebih memanas bersaing dengan pemanasan global yang terjadi di daerah saya tinggal. Sumpah! Palu panas banget!

Media sosial menunjang dengan aktif perkembangan dari setiap orang. Hal ini terlihat, bagi mereka yang memanfaatkan Internet dengan baik dan tidak hanya untuk bersenang-senang semata. 

Melalui media sosial kita menjadi up date berita dan informasi yang kita inginkan sepersekian detik lebih cepat dari yang ada di berita yang ditayangkan secara visual.

Saya tertarik untuk membahas poin berikut:

•   Media sosial adalah nama baikmu. Mengapa?

Saya mengamati beberapa orang yang terbilang mempunyai prestasi baik dikalangan akademik maupun non-akademik. Mereka bergerak aktif dalam kegiatan anak muda yang berupa pagelaran seni, budaya dan kreasi. Akan Tetapi, hanya karena permasalahan dari perbedaan pendapat saya merasa, sebagian dari mereka justru mencerminkan jati diri sebenarnya yang tidak seharusnya Ia beberkan kepada khalayak banyak mengingat, Ia mempunyai status baik yang disandang sebagai "nama baiknya".

Karena permasalahan politik, perbedaan pemilih calon Presiden membuat mereka berbicara memaki dan kasar. Suka sekali mencecar pilihan orang lain dengan berbagai fitnah yang faktanya juga belum jelas adanya. Terlebih lagi, satu hal yang membuat saya sedikit prihatin adalah, ketika dia berbicara tentang salah satu capres yang dicecar karena salah melakukan peribadatan di tanah suci sementara kebenarannya saja belum Ia temukan dengan pasti. Mengingat, dirinya sendiri tidak menganut agama yang sama. Bukankah itu hanya memancing perkelahian dan perselisihan?

Lebih memprihatinkan adalah ketika Ia memiliki sejuta prestasi dan mendapatkan berbagai gelar yang terbilang sangat baik. Tetapi, hanya karena permasalahan sepele Ia tidak memandang status yang Ia emban. Duta perdamaian misalnya; bukankah seharusnya Ia memberikan informasi netral, seperti prestasi prestasi dari capres yang Ia dukung ketimbang menyebarkan fitnah di dunia maya?

Saya belajar satu hal, kalau ternyata; ada dua tipe manusia di Indonesia ini.

Yang pertama adalah mereka yang hidup berdasarkan eksistensi. Mencari popularitas tanpa memikirkan apa-apa saja poin positif yang harus Ia bagikan kepada khalayak banyak. Itulah mereka yang hidup berdasarkan status, berkedok penampilan yang semata-mata hanya untuk mendapatkan nama dikalangan orang tahu.

Dengan mereka yang mengemban status dengan baik, menyebarkan informasi-informasi positif sesuai dengan tugas yang Ia emban. 

Status atau pekerjaan yang dikenal dikalangan media sosial merupakan pekerjaan yang harus dijaga layaknya nama baik. Jika kita mengemban nama duta entah itu apapun, seharusnya kita bisa memberikan kesan positif kepada teman-teman media sosial. Bukannya menggurui, tetapi tujuan kita mengemban gelar itu adalah untuk memotivasi dan memberikan informasi kepada khalayak tentang info-info positif yang membangun bukan? Dan tentu saja, bukan hanya untuk ajang pamer, eksistensi.

•   Anak muda merupakan influence. 

Benar. Anak muda merupakan influence. Dikalangan anak muda lah hal-hal hidup mencontoh itu banyak diterapkan. Entah itu melalui idola, ataupun beberapa orang yang berpengaruh dan mempunyai bakat yang patut untuk dikagumi.

Anak muda Indonesia, yang kreatif dan inovatif adalah mereka yang produktif dengan minat dan passion yang mereka geluti. Melalui passion dan minat mereka, secara tidak langsung mereka bisa ikut menyebarkan energi positif seputar dunia mereka kapada anak-anak lainnya untuk membangun dan memotivasi mereka agar mau ikut berbuat hal yang sama.

•   Anak muda pembawa dan pencinta perubahan

Tepat sekali. Anak muda suka hal-hal yang baru dan lebih menantang. Mereka tidak suka hanyut dalam hal-hal yang berbau itu-itu saja, tanpa kejelasan dan tanpa maksud yang tidak menghasilkan sesuatu yang lebi berguna.

Hal itulah yang menjadi alasan, mengapa melalui anak mudalah, masalah masalah negeri harus lebih ditanggapi. Anak muda lebih peka dan aware dengan berbagai permasalahan yang sedang terjadi. Dengan ikut berpartisipasi, menyimak, mempelajari dan menyerukan ide-ide baru akan membuka gagasan segar untuk membuat Indonesia hebat ke arah yang lebih baik.

•   Anak muda adalah sumber sejuta ide-ide kreatif positif yang membangun.

•   Anak muda ialah suara untuk menuju Indonesia hebat, yaitu Indonesia yang lebih baik.

Melalui mimpi, melalui jalan berliku menuju cita-cita, anak muda belajar melalui berbagai masalah dan rintangan. Hal itu yang membuat mereka lebih dewasa dalam berpikir dan bertindak. Bukan untuk berkoar-koar tanpa isi, Tetapi bersuara lantang untuk menyerukan revolusi demi menemukan solusi akan permasalahan yang ada.

Saya adalah anak muda Indonesia. Saya ingin berpartisipasi untuk menyumbangkan ide-ide kreatif dan inovatif saya menuju Indonesia yang lebih baik dan mandiri. Jika sejuta mimpi itu saya Rangkai hanya di dalam angan, melalui tindakan dan partisipasi saya terhadap dunia luar akan saya realisasikan mimpi itu menjadi sesuatu yang nyata dan berguna bagi negara dan juga orang lain.

Jangan berhenti bermimpi, dan mari bersinergi!

Nurul Khasanah
@hannaaabelle
Duta IYC Sulawesi tengah 2014

Thursday, February 13, 2014

Surat cinta untuk @kemalpalevi

Dear, @KemalPalevi


Kepada sang pangeran impianku tercinta yang lebih tampan daripada sang raja laut, Neptunus. Apa kabarmu di kaki bumi? Apakah baik-baik saja?

Masihkah kau ingat diriku, seorang wanita yang kini tinggal di bawah tangkai bunga mawar yang mekar dengan subur dan indah di dalam kamarku. Mawar yang dulu sering kau berikan padaku di setiap malam Minggu kita, kini telah bersemi. Menjalar melewati dinding-dinding porselen dan berakar di setiap tegelnya. Tak heran aku sering berpikir mungkin aku adalah ratu lebahmu yang kau berikan bunga mawar berhektar-hektar saking cintanya.


Selamat hari Valentine, Kemal! Aku mencintaimu! Tak ketinggalan dan kelupaan ku layangkan dari langit Sulawesi berpuluh-puluh ton coklat untukmu dengan truk besar yang saling berantrian. Ini coklat spesial yang langsung ku petik dari pohonnya untukmu. Ya...... BUAH COKLAT!

Aku rindu dengan banyak hal tentangmu. Aku rindu dengan nyanyian syahdumu dalam petikan gitarmu. Aku rindu dengan brewokkanmu yang lebih rimbun dan menawan dari seorang Adam Levine ataupun seorang Zohan. Kamu ingat film "you Don't mess With the Zohan!" Kan?
Film yang kita nonton bersama saat merayakan Anniversary kita. Romantisnya flashback!


Surat cinta penuh kerinduan, kerindangan, kekeluargaan, kebersihan, kedisiplinan, kerapian dan keamanan lengkap 7K yang biasa kita pelajari bersama dalam masa-masa romantis merah putih sekolah dasar. Dibalut rasa sayang, senyum, salam, sopan dan santun dalam 5S kulayangkan padamu seromantis film pendek Disney sang Paperman. Tapi, aku lebih romantis lagi loh sayang! Aku tidak pake angin yang berhembus bagaikan kentut, tapi pake semburan awan panas gunung sinabung biar lebih menyentuh.

Cintaku padamu bagaikan seorang Dewi Persik yang tiada habisnya membuat sensasi, dan tiada berujung seperti lagu lawas milik Dirly Idol "...sampai ke ujung duniaaaaaaa...."

Ku nantikan 15 Maret 2014 di panggung stand up comedy, di kota Palu- Sulawesi Tengah dengan setangkai bunga asoka  untukmu...
Berjanjilah jangan pulang sebelum bertemu aku ya!
Kemalku sayang.
Kechup sambal!!

Salam cinta rasa kaledo,
Hannah Montana
Bukan
Miley Cyrus jadi-jadian.



@hannaaabelle
@bukune
@kemalpalevi



Tuesday, January 14, 2014

CINTA SEBENING SALJU MUSIM DINGIN


             



             Honda Ryuta, adalah seorang wanita yang hampir berumur 5o tahun. Walaupun dimakan oleh usia, ia bahkan masih menjalani hidupnya layaknya perempuan umur 20 tahunan. Ia masih suka menghabiskan waktunya dengan jalan-jalan, berbelanja, ataupun melakukan hal-hal yang sering dilakukan oleh anak-anak muda jaman sekarang.
            “Ryuta!” Suara melengking itu menyebutkan namanya dengan napas terengah-engah. Suara yang dikenali Ryuta dengan baik. Itu adalah suara milik Sena. “Maaf ya, lama menunggu.”
            “Tidak apa-apa. Aku juga menikmati waktuku. Ayo kita pergi!” Ryuta mengajak Sena keluar dari toko buku itu dan pergi berkeliling. Mereka berhenti di sebuah gerobak penjual ubi rebus. Ryuta mengajak Sena duduk di pinggiran jalan sambil menikmati ubi rebus yang masih panas di bungkus dengan kertas roti.
            Mereka duduk tepat berhadapan dengan sebuah butik. Lama mata Ryuta memandang sebuah gaun putih terusan yang terpajang di etalase tepat di depannya. “Hei, Sena-chan! Gaun terusan putih itu pasti cocok untukmu. Menurutku, sayang sekali kalau tak pakai gaun putih selagi muda.”
            “Ryuta, aku mau bicara….” Sena tak menghiraukan perkataan Ryuta barusan. Ia tertunduk malu-malu saat mengatakan ia ingin bicara tentang sesuatu pada Ryuta.
            “Kau tahu, putriku, dia cantik sekali! Tapi, dia malah memilih pergi keluar negeri dan kawin lari.”
            “Iya. Iya. Aku tahu. Aku pernah melihat fotonya.”
            “Dia bahkan tidak mengadakan resepsi dan langsung ke Inggris bersama bule.” Ryuta menjelaskan dengan kesal.
            “Ryutaaaaaa, aku mau mendiskusikan sesuatu.” Sena setengah memelas. Ia memohon agar Ryuta mau mendengarkannya.
            “Sena tidak suka ubi rebus pake krim, ya? Aku sih mau, karena gula darahku rendah.”
            “Ryutaaa!” Sena menggenggam kedua tangan perempuan itu. Ia lalu mengerjap beberapa kali. “Ryuta! Aku…. Aku menyukai seseorang!”
            Sena Misuzuki, adalah seorang guru TK. Di umurnya yang sebentar lagi menginjak 23 tahun, ia sama sekali belum pernah merasakan yang namanya pacaran. Ia payah sekali dalam urusan laki-laki. Mendengarnya mengatakan kalau dia menyukai seseorang, jelas saja mengagetkan untuk Ryuta sendiri. Ryuta mengenal Sena dengan sangat baik. Pertama kali ia bertemu dengan Sena di kursus Kimono, perempuan itu terlihat begitu pemalu. Ia juga sangat alim dan penyendiri. Ryuta tak percaya, ternyata Sena yang pemalu itu bisa menyukai seseorang.
            “Siapa dia?” Ryuta ikut berjinjit mengintip sebuah restoran Itali yang berada di seberang jalan. Sena bersembunyi di balik bahunya yang kecil sambil diam tak bersuara. Ryuta berpikir, Sena luar biasa bisa menemukan seseorang yang di sukainya di sudut kota Tokyo. Ini bahkan kali pertama Ryuta melihat restoran itu semasa hidupnya.
            Laki-laki yang dimaksudkan oleh Sena merupakan laki-laki yang berwibawa. Ia cepat dan cekatan. Penampilannya pun terbilang menyerupai orang berkelas. Rambutnya hitam dan wajahnya begitu khas orang Jepang semestinya. Ia tinggi dan memiliki alis tebal dengan mata tidak terlalu sipit.
            “Sena, dia tipe laki-laki kesukaanku.”
            “Ryuta kan sudah punya suami?”
            “Aku serius! Dia tipe kesukaanku. Aku tidak yakin bisa mendukungmu.” Ryuta tertawa.
            “Ah.” Sena tertunduk lesu.
            “Hey, aku bercanda. Jangan sedih begitu!” Ryuta membujuknya. “Orangnya seperti apa?”
            “Dia adalah pemilik restoran itu. Aku tidak tahu siapa namanya. Kadang-kadang, aku dan beberapa guru TK lainnya sering membeli makan siang di restorannya. Aku melihatnya ketika itu. Ryuta, kau tahu, dia bahkan pintar bahasa Itali!” Sena menjelaskannya dengan bangga.
            Ryuta melihat perempuan itu menyembunyikan wajahnya yang memerah karena menahan malu. Suara degup jantungnya pun terdengar samar-samar diantara keramaian di pinggiran jalan. Suara angin musim dingin pun tidak dapat menyembunyikan perasaan Sena yang meluap-luap. Perempuan yang sedang jatuh cinta itu ibarat salju. Putih, bersih dan dingin. Ia dingin, karena membekukan hatinya demi perasaannya untuk seseorang.
            Ryuta duduk di depan sebuah kotak kardus besar berwarna coklat sambil asik menyenandungkan lagu dalam bahasa Jepang. Ia terlihat senang sekali. Kyusuke, suaminya, terus menatapnya sedari tadi yang bertingkah tidak seperti biasanya.
            “Ada apa? Kau senang sekali?” Ia lalu membuka lembaran Koran berikutnya. “Akhirnya, kau merapikan barang-barang juga.”
            “Memang masih dingin. Tetapi, sebentar lagi bulan Desember akan berakhir.” Perempuan tua itu kembali mengenang. Pikirannya menelusuri berbagai kenangan yang tertinggal jauh di belakang. Ada beberapa kenangan yang sulit untuk ia lupakan namun tak bisa untuk ia bagikan kepada orang lain. Walaupun Ryuta terlihat begitu ceria dan enerjik setiap harinya, siapa yang mengira perempuan itu nyatanya menyimpan sebuah kesedihan yang ia tutup rapat-rapat. Ia akan selalu kembali pada kenangan di masa itu ketika musim dingin dimulai ataupun bahkan hampir berakhir.
            “Sudah lama juga ya. Padahal, mungkin saja Misato masih ada di sini.”
            Ryuta memandang kosong ke suaminya. Ia bahkan tidak mengeluarkan sepatah katapun. Bibirnya terkatup rapat dan keningnya terangkat. Ia tidak berpikir kalau sekarang adalah waktu yang tepat untuk kembali terhanyut dalam kepedihan yang dulu nyaris membuatnya putus asa. Perempuan itu tersenyum sesaat lalu tertawa.
            Kyusuke meliriknya sekali lagi. “Ada hal yang menyenangkan, ya?”
            Ryuta mengangguk pelan. “Musim dingin kan, musim yang penuh dengan cinta.” Ia memikirkan Sena. Perempuan itulah yang membuatnya sering tertawa-tawa sendiri. Tiap kali memikirkan Sena, Ryuta akan ikut merasa senang. Ia akan selalu mengingat saat Sena yang pemalu itu berbagi cerita padanya. Sena selalu bertanya dalam kebingungannya, apa yang harus aku lakukan sekarang? Tentu saja, Ryuta sangat senang karena Sena mengandalkannya.
            Sore itu, mereka merencanakan untuk makan malam di restoran milik laki-laki yang di sukai oleh Sena. Ryuta sudah tampil cantik dan mencolok.
            “Wah, harga makanannya tidak begitu mahal.” Ryuta mengomentari buku menu.
            “Ryuta, topimu….” Sena terus menatap topi milik Ryuta yang memiliki bunga-bunga di setiap sisinya dan menurutnya itu terlalu berlebihan.
            “Maafkan aku. Aku sengaja dandan, karena kupikir ini adalah restoran mewah. “ Ia tertawa. “Kau harus tahu banyak tentang dia. Jangan lupa, tanyakan siapa namanya. Dia harus tahu namamu. Kalian harus berkenalan. Kita sudah susah payah datang kesini. Berusahalah!”
            “Selamat datang.” Laki-laki itu menghampiri meja Sena dan Ryuta. Ia membawakan dua gelas berisi air mineral dingin lalu meletakannya tepat di depan keduanya. “Lho! Anda guru TK yang sering datang kesini kan?” Ia memastikan kalau itu memang pelanggan yang dikenalinya. “Kali ini datang bersama Ibu, ya?” Ia tersenyum.
            “Ah, tidak juga.” Ryuta tertawa kecil. Ia lalu memberi kode pada Sena agar segera menanyakan nama laki-laki itu.
            Sena terlihat gemetaran. “Ah,” Wajahnya memerah seketika ketika laki-laki itu menatap lurus padanya tanpa berkedip. “Aku pesan menu untuk dua orang.” Ia meremas kedua tangannya. Ia jelas saja tidak akan bisa menanyakan nama laki-laki itu.
            Walaupun Ryuta terus menyemangatinya, Sena sama sekali tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun dari mulutnya ketika ia berhadapan langsung dengan laki-laki itu. Seperti seorang perempuan bodoh yang mati kutu.
            Sena tak berbicara sedikit pun mengomentari makanan yang mereka nikmati barusan. Tak lama setelahnya, perempuan itu menangis. Air mata mengucur dari kedua bola matanya yang bulat dan hitam. Ia bahkan meraung-raung dengan pelan. “Aku, selalu saja seperti ini setiap kali menyukai seseorang. Hanya berani melihatnya dari jauh. Padahal, jelas-jelas ada banyak kesempatan untuk mengajaknya bicara. Aku memang bodoh! Tak bisa berbicara dengan berani. Mungkin, memang aku di takdirkan untuk hidup sendiri selamanya.”
            Ryuta ikut berjongkok tepat di sebelah Sena. Ia menepuk pelan bahu perempuan itu. “Tak bisa? Memangnya Sena sudah gagal berapa kali? Sena tetap mengambil langkah ke depan dan tidak menyerah bukan?” Ia melihat Sena mulai mengangkat wajahnya. Wajahnya memerah dan terlihat sembab. Butiran salju yang putih itu berkumpul di atas kepalanya, di atas rambutnya yang hitam. Ryuta membuka dompetnya dan menyodorkan sebuah foto pada Sena. “Lihatlah! Ini foto putriku.”
            “Aku sudah sering melihatnya Ryuta. Aku bahkan tidak tahu dia mirip siapa.” Suaranya serak.
            “Dia menyukai guru bahasa Inggrisnya. Tapi, dia bahkan tidak bagus dalam bahasa Inggris. Dia payah, percintaannya pun kacau. Dia selalu saja menyalahkan dirinya setiap saat. Dia bahkan sering mengoceh banyak hal yang tak masuk akal, termasuk mengapa ia tak dilahirkan di Inggris saja supaya dia jago berbahasa Inggris.” Ryuta menghela napas panjang. Ada asap mengepul keluar dari napasnya yang berhembus. “Tapi, aku ingat kata-katanya yang selalu ia ucapkan padaku. Katanya, bisa disukai oleh orang yang kita sukai adalah sebuah anugrah.”
            Sena lalu tersenyum. Ryuta sangat senang melihat gadis itu tidak sedih lagi. “Ryuta pernah ke Inggris?”
            Ryuta mengangguk. “Pernah sekali.” Katanya sambil mengacungkan jadi telunjuk kanannya. “Orang Inggris jalannya cepat. Lebih cepat dari orang Osaka!”
            Sena menyeka air matanya dan terus bertanya tentang Inggris kepada Ryuta. Ia akhirnya merasa lebih baik. Setelah mengeluarkan segalanya yang mengganjal hatinya, akhirnya perempuan itu merasa bebannya sudah hilang walau tak sepenuhnya.
            Keesokan harinya, di pagi hari yang cerah, saat matahari malu-malu menampakkan dirinya dan salju yang masih saja turun bertebaran dari langit. Sena memantapkan langkahnya. Restoran itu bahkan sudah terlihat dengan jelas dari kejauhan. Laki-laki yang disukainya sedang sibuk mengatur-atur beberapa kotak makan saat restorannya baru saja di buka.
            Senyuman laki-laki itu merekah menyambut pelanggan pertamanya pagi itu. Ia adalah Sena Misuzuki. Perempuan itu lalu menyodorkan sebuah tempat bekal yang dibungkus dengan serbet cantik berwarna merah kotak-kotak. “Aku membuat banyak kue Ohagi. Silahkan dimakan. Ini sebagai ucapan karena waktu itu memberikan aku makanan penutup gratis.” Katanya dengan terbata-bata.
            “Terima kasih.” Laki-laki itu tersenyum.
            “Namaku, Sena Misuzuki. Aku tak punya maksud apa-apa. Hanya ingin berkenalan denganmu.” Katanya sambil membungkukkan badannya.
            Sepertinya hari itu langit kota sushi itu memang sedang cerah. Sena tak menyangka ia mendapatkan alamat email laki-laki itu.
            Sena terlihat sangat senang. Ia menceritakannya kepada Ryuta dengan semangat yang menggebu-gebu. Sena sudah berjanji pada Ryuta, kali ini ia akan benar-benar berusaha dengan keras dak tak akan mengandalkan Ryuta lagi. Ia berjanji pada dirinya sendiri, ia akan mengejar sendiri kebahagiaannya.
            Ryuta menyusuri jalan setapak diantara dua buah bangunan tinggi yang saling berhimpitan. Ia masih saja memikirkan kata-kata Sena yang berhenti untuk mengandalkannya dan jujur saja perempuan itu agak sedih mendengarnya. Matanya terpaku pada sosok seorang laki-laki di depannya. Ia mengenali laki-laki itu. Orang yang di sukai oleh Sena.
            Laki-laki itu berdiri berdampingan dengan seorang wanita berambut pirang. Ryuta melihat perempuan yang digandeng oleh laki-laki itu tengah hamil. Ryuta tak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya. Ia tidak mampu untuk mengeluarkan sepatah katapun. Pikirannya melayang jauh. Ia memikirkan Sena. Bagaimana perempuan itu jika ia tahu tentang ini?
            Sena berjalan sambil sesekali menggosokkan kedua telapak tangannya yang kedinginan lalu kembali memasukkannya ke dalam saku jaketnya yang tebal. Ia masih merasakan dingin yang amat sangat walaupun sudah memakai berlapis-lapis pakaian dan jaket wol yang tebal. Langkahnya terhenti begitu ia melewati sebuah butik yang beberapa waktu yang lalu ia lihat bersama Ryuta. Sebuah gaun putih terusan  itu masih terpajang dengan indah di salah satu manekin di etalase. Ia lalu mengingat kata-kata Ryuta, bahwa gaun itu cocok untuknya. Tanpa pikir panjang, ia berjalan memasuki butik tersebut dan tak lama keluar dengan sebuah bungkusan cantik dari kertas berlabelkan nama butik tersebut. Sena membelinya. Ia akan mengenakan gaun itu untuk makan malam dengan laki-laki sang pemilik restoran Italia. Harga gaun itu bahkan lebih mahal dari yang dia kira. Namun, ia tidak menyesalinya. Sena berpikir bahwa ia harus terlihat cantik saat makan malam itu.
            Seyuman Sena terus terpajang di bibirnya yang tipis. Bahkan dinginnya musim dingin pun mendadak tak terasa lagi olehnya. Ia menghentikan langkahnya begitu melihat Ryuta dari kejauhan. Ia melangkah dengan pelan mendekati perempuan itu dan ternyata itu memang Ryuta. Perempuan itu sedang berdebat dengan seorang laki-laki yang ternyata ia kenal. Laki-laki itu adalah orang yang ia sukai. “Ryuta, ada apa?” Ia bertanya lalu berlari kecil mendekati mereka.
            Ryuta terlihat kaget melihat Sena sudah berdiri di depannya. Belum sempat ia menjelaskan apa yang terjadi ketika laki-laki itu mulai berbicara mendahuluinya.
            “Misuzuki, maafkan aku. Aku sudah membuat Ibumu cemas. Makan malam itu, kita batalkan saja. Kau boleh mampir ke restoranku lagi kapan-kapan.” Laki-laki itu berlalu begitu saja. Sena pun bahkan tak sempat menahannya. Ia bahkan tidak mengerti sepenuhnya dengan apa yang dimaksudkan olehnya.
            “Tunggu!” Ia berusaha untuk mencegatnya walaupun ia tahu itu sia-sia.
            “Biarkan saja! Dia tak pantas untukmu Sena.” Ryuta menarik lengan gadis itu. Tak sengaja, tas pembungkus gaun yang dibeli oleh Sena terlempar begitu saja, terseret jauh di atas tumpukan salju di pinggiran jalan lalu terlindas kendaraan yang melintas.
            Raut wajah Sena berubah. Ia terlihat sedih dan juga kesal. “Kenapa?” Suaranya serak. Perempuan itu menangis sekarang. “Kenapa kau yang putuskan kalau laki-laki itu tak pantas untukku? Apakah karena kau tidak menyukainya? Kau kejam! Kau mengacaukan percintaan orang karena tak bisa mengurusi anakmu lagi!!!”
            Ryuta tak menjawab. Hatinya terasa sakit. Ia mungkin sudah melukai perasaan Sena. Tak ada gunanya ia masih tetap bertahan di tempat itu. Walaupun tak ingin dan terlihat ragu, ia memutuskan untuk pergi. Sena tak akan mau melihatnya lagi. Ia sudah benar-benar menghancurkan perasaan perempuan itu. Malam itu, bahkan ketika salju turun dengan derasnya. Air mata Sena pun tak dapat dibendung. Ia terus bersedih. Tangannya bahkan gemetaran diantara menahan  dinginnya malam dan menahan kekesalannya kepada Ryuta yang bahkan belum sempat ia berikan kesempatan untuk menjelaskan.
            Pagi itu, Sena terlihat suram. Ia tidak punya semangat seperti hari-hari biasanya. Ia bahkan menjadi pusat perhatian semua guru-guru TK lainnya. Salah seorang rekannya menghampirinya. Ia tahu bahwa Sena menyukai sang pemilik restoran itu. Walaupun takut-takut ia menghampiri Sena yang duduk di meja kerjanya tanpa senyuman sedikit pun.
            “Kenapa? Apa kau sudah dengar beritanya?” Katanya berbisik. “Tentang laki-laki yang kau sukai itu. Dia sudah punya istri. Ternyata, ia jago selingkuh!”
            Sena berdiri dari tempatnya duduk. Ia tak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan oleh rekannya itu. Dipikirannya, terlintas Ryuta. Bagaimana Ryuta sekarang? Dia sudah sangat bersalah. Mengatakan kata-kata yang tidak semestinya pada perempuan itu dan bahkan tidak memberikannya kesempatan untuk menjelaskan semuanya.


            Musim dingin rasanya baru saja dimulai, namun sekarang hampir berakhir. Ryuta berdiri di ambang pintu sambil menengadahkan kepalanya menatap langit dan terus melihat salju yang turun tanpa henti-hentinya. Tiga tahun sudah berlalu, ia kembali mengenang kematian putrinya, Misato.
            “Cantiknya.” Gumamnya.
            Ryuta berpikir, mungkin dirinya terlalu egois. Menganggap Sena adalah Misato dan terlalu ikut campur dalam urusan hidup perempuan itu. Ia menangis. Di bawah putihnya salju yang turun, ia menyesali perbuatannya yang akhirnya malah menyakiti Sena. Dia selalu bertanya-tanya apakah Misato, putri kesayangan satu-satunya itu bahagia di surga? Ia ingin membuat orang lain bahagia, agar dia bisa yakin bahwa Misato pun bahagia di atas sana. Sesungguhnya, Ryuta ingin sekali. Ketika musim dingin datang, ia ingin menyambutnya dengan suka cita yang sebenarnya. Ia ingin berhenti terus hanyut dalam kenangan tentang masa lalunya yang sangat sulit ia lupakan. Sedikit lagi, ia hampir berhasil. Sena yang hampir berhasil membantunya.
            Ryuta menatap langit hitam yang gelap dengan butiran putih yang berjatuhan. Ia melihat sosok Misato tersenyum di atas sana. Mungkin hanya ilusinya, namun ia tersenyum karena bisa melihat putrinya. Sena sudah berdiri tepat di depannya berlinangan air mata yang tiada hentinya.
            “Maafkan aku.” Katanya tersedu-sedu. “Maafkan aku sudah berkata-kata kasar padamu.”
            Ryuta tersenyum. Ia memeluk Sena dengan dekapan hangatnya. “Sena cantik sekali.” Katanya di bawah langit musim dingin. “Seperti, seorang pengantin saja.”
            “Ryuta, aku memang payah dalam urusan cinta. Tapi, aku tidak akan menyerah seperti putrimu Misato. Tunggulah, sampai aku menjadi pengantin sungguhan. Akan ku perlihatkan padamu! Aku tidak akan menyerah Ryuta!”
            Meski kehilangan orang tersayang, meski menangis meraung-raung, butiran salju itu masih tetap turun tanpa henti. Walaupun hati Sena membeku dan dingin, ia masih berharap seseorang akan datang untuk menghangatkannya suatu saat nanti. Sena tidak menyesalinya. Umurnya bahkan masih panjang sepanjang perjalannya menyambut hari-hari berikutnya. Ia mempercayai, bahwa semua perempuan di dunia akan menikah suatu hari nanti. Walaupun sekarang cintanya gagal, ia bahkan tidak menyesalinya karena cintanya terhadap Ryuta tak akan ada akhirnya layaknya cinta seorang anak perempuan kepada Ibunya.
***


kisah ini akan berlanjut. tentang bagaimana perjuangan Sena mencari cinta sejatinya, demi menjadi seorang pengantin wanita yang selalu ia impikan selama ini...

@KampusFiksi #WinterStory2014

Hanna Enka