Showing posts with label fiksi. Show all posts
Showing posts with label fiksi. Show all posts

Saturday, April 5, 2014

#deskripsisetting KAMPUS FIKSI - Hanna Enka

Demian berjalan melewati taman Lumus sambil menggandeng papan seluncurnya di bahu kirinya. Langkah kakinya disambut oleh pasir putih yang membentang di sepanjang garis pantai. Suara burung-burung camar terdengar melengking diantara suara deburan ombak dan celotehan beberapa penikmat pantai yang saling bertindihan. Laki-laki itu datang sendirian. Ia tidak menyapa siapapun yang Ia lewati. Dengan hanya tersenyum kecil saat beberapa orang wanita yang berpapasan dengannya. Hari itu, matahari bersinar sangat cerah. Miami jarang mendung. Selagi Ia senggang, laki-laki itu ingin menikmati liburannya di pantai itu, pantai selatan Miami yang sangat populer.

Demian berjalan hingga ke tengah laut. Cukup sampai batas yang bisa Ia jejaki. Ia meletakkan papan seluncurnya di atas air laut yang membuat tubuhnya ikut terombang-ambing seirama ombak yang bergerak ke arahnya. Sampai ketika ombak besar itu muncul di hadapannya, satu senyuman lebar terlukis di wajahnya yang cerah. Ia memanjat, menaiki papan seluncurnya dan mulai menahan tubuhnya, menyeimbangkan berat badannya dengan gerakan ombak yang membuat papan seluncurnya berputar dengan indah. Tubuhnya diterpa oleh air laut yang memercik dari segala arah. Demian cukup menikmatinya. Ia tahu, betapa Ia merindukan hobinya itu. Terlalu lama bergelut dengan pekerjaannya, Ia baru menyadari, banyak hal yang Ia lupakan dan Ia abaikan. Termasuk tentang menghibur dirinya sendiri.



                           *********                          

Feba duduk tepat di depan jendela besarnya yang Ia biarkan terbuka. Angin laut pantai selatan Miami berhembus memasuki setiap sudut kamarnya. Ia menikmati secangkir kopi dalam pangkuannya sambil menoleh ke langit biru cerah yang tak berawan. Dari kamarnya Ia bisa melihat semua orang di bawah sana. Yang menikmati air laut dan cahaya matahari menyengat untuk berjemur. Suara ombak yang bergerak, terdengar menentramkan hatinya yang sendu. Samar-samar suara televisinya juga  ikut berbaur. Gadis itu menghela napas panjang sebelum kembali menyesap secangkir kopinya yang asapnya masih mengepul. Matanya menyapu seluruh pantai dari ujung ke ujung. Pandangannya berhenti pada sesosok laki-laki bertubuh kekar dan atletis yang sedang berdiri di tengah pantai menunggu ombak menghantam papan seluncurnya. Gadis itu tersenyum. Ia mengenal laki-laki itu. Apa yang sedang Ia lakukan di sana?

Feba berdiri dari tempat duduknya. Ia berdiri tepat di sebelah jendela ingin melihat lebih jelas untuk memastikan. Tirai yang tertiup angin terbang perlahan menyapu tubuhnya yang kecil. Feba adalah orang Asia. Saat Ia berdiri beriringan dengan orang Amerika, siapapun pasti dapat menerkanya. Cahaya matahari menerpa wajahnya. Ia memicingkan matanya karena silau. Rambut hitamnya tergerai indah sesekali terbang menutupi wajahnya karena diterpa oleh angin.

"Kau di sana? Tidak memberitahuku kalau kau sedang senggang. Haruskah aku turun menemuimu? Tidakkah kau rindu padaku, Demian?" Katanya dengan pelan lalu menyandarkan kepalanya pada ujung jendela yang terbuka sambil melipat kedua tangannya di dada. Kembali ke Miami, selalu membuatnya merindukan laki-laki itu berkali-kali.



                            **********

Laki-laki itu tersenyum padaku. Apakah dia masih mengingatku?

Jane berjalan ke depan tanpa berkonsentrasi. Ia menengok ke belakang sesekali. Namun, laki-laki itu tetap berjalan ke depan tak berbalik kepadanya. Sudah lama Ia tidak melihat Demian. Semenjak Feba kembali ke Indonesia, Demian Tak pernah lagi berkunjung ke Boulevard Hotel tempatnya tinggal. Jane sering berpikir, apakah sekarang laki-laki itu sudah melupakan kisah cintanya bersama Feba?

Ia duduk di pinggiran pantai, beratapkan payung yang terbuka lebar, beralaskan pasir putih. Salah seorang teman kerjanya, Vincent sedang asik berjemur tanpa menghiraukan gadis itu. Vincent bahkan tidak menyadari kalau Jane sudah duduk tepat di sebelahnya.

"Kau kembali?" Tanyanya lalu melepaskan kacamata hitamnya.

"Kau lihat." Jawab Jane tersenyum. Matanya masih terpaku pada laki-laki itu. Punggungnya masih terlihat walaupun pantulan cahaya sinar matahari pada permukaan air lautnya menyilaukan penglihatannya. Laki-laki itu sedang asik di tengah pantai membiarkan papan seluncurnya mengambang. Ini adalah kali pertama Ia melihat laki-laki itu akan berselancar. 

Ketika ombak besar itu mulai terbentuk dan bergerak menghampirinya, Jane melihat Demian berusaha menaiki papan seluncurnya. Laki-laki itu bergerak dengan lincah di atas ombak yang menggulung. Tubuhnya dan gerakan ombaknya terlihat seirama. Jane menatapnya dengan kening terangkat.

"Harus kuakui, Feba tak salah bisa menyukai laki-kali itu. Lihatlah! Dia memang terlihat begitu.........keren!" Jane mengumpat dalam nada suaranya yang terkesan.

"Siapa?" Vincent menoleh padanya. "Siapa yang kau lihat?"

Jane menatapnya lalu mengerjapkan matanya beberapa kali. "Bukan siapa-siapa. Kurasa aku harus segera mencari tambatan hati sebelum aku jatuh cinta pada laki-laki yang sudah memiliki wanita."

Vincent tak menjawab dan hanya menatap gadis itu dengan alis mengkerut.



                        *********** 



Friday, March 28, 2014

Summer Paradise - Hanna Enka


SUMMER PARADISE
Hanna Enka





               “Demian, apakah kau baik-baik saja?” Feba bertanya masih dalam tawanya yang cekikikan.
            Demian Joe Davis duduk di pinggiran pagar kayu yang berjejer tak jauh dari sebuah Pirate Ship berukuran besar di pinggiran pantai. Jantungnya berpacu kencang diiringi deru napas yang memburu. Demian merasa seperti orang bodoh karena bisa melupakan hal yang paling ia takuti yaitu, ketinggian. Kakinya lemas dan masih bergetar karena ketakutan.


              “Sini. Kemarilah.”
            Demian membiarkan dirinya dituntun oleh Feba ke bebatuan besar di dekat garis pantai. Ia duduk di atasnya sambil mengatur napas dengan santai. Ia menoleh ke arah gadis berambut panjang yang duduk di sampingnya. Hembusan angin membuat rambutnya tergerai indah mengalun bagai ombak menyapu wajahnya yang berseri-seri. “You did it! Tentu kau senang karena berhasil melakukannya,” gumamnya. “Kau cukup membuatku menderita karena tidak memperingatkanku sama sekali.”
            Feba Clarina tertawa lepas. Bola mata Hazelnut-nya berkilat gembira. “Aku ingin kau mencoba untuk melawan ketertakutanmu itu.” Ucapnya dengan nada riang. “Aku tidak mengira sebelumnya kalau kau akan benar-benar memanjat di tangga gantungnya.” Lagi-lagi ia tertawa cekikikan.
            Demian menyipitkan mata, namun bibirnya melengkung tersenyum. “Aku benar-benar hampir mati. Tidak bisa kubayangkan. Kakiku masih gemetaran karenanya.” Ujar Demian mendesah dengan keras. “Perhaps, you hypnotize me?”
            “Menghipnotismu?” Ulang Feba dengan alis terangkat. Ia menyapu sejumput rambut hitam yang menutupi wajahnya karena tiupan angin. “Untuk apa aku melakukannya? Aku pikir, kau sengaja melakukannya untukku.” Katanya terdengar ragu.
            Senyum Demian melebar. “Melakukannya untukmu?”
            Hidung Feba berkerut. “Kau tidak bisa menyalahkanku. Ini Pirate Bay, kau kaptennya, sudah kewajibanmu mengawasi bajak laut lainnya dari Watch Tower, Demian!” Katanya lalu tertawa mengejek.
            “Baiklah! Kau menang.” Ujar Demian menyerah. Ia mulai merasa lebih baik dari sebelumnya. “Kata-katamu benar. Pantai ini indah. Lebih mempesona dibandingkan dengan pantai selatan Miami yang padat.”
            “Bersyukurlah karena akhirnya kita bisa pergi ke tempat ini. Soal janjiku, sudah kutepati kan?”
            “Ya,” Demian mengangguk. “Terima kasih. Kau sangat murah hati karena mau menemaniku ke tempat ini.” Kata Demian sambil tersenyum.
            Selama beberapa saat mereka berdua duduk di sana tanpa berkata apa-apa. Duduk berdekatan, bahu bersentuhan. Suara debur ombak diiringi suara hembusan angin yang menderu terdengar di telinga Demian, membuat hatinya merasa begitu tenang dan nyaman. Demian memejamkan mata dan menikmati angin laut yang berhembus kencang menerpa wajahnya, membuat hidung dan pipinya terasa dingin.
            Demian meninggalkan Miami, Florida untuk sementara waktu dan berlibur bersama Feba di Bali seperti janji mereka dulu saat berada di gunung Matantimati, negeri di atas awan dan surga paralayang. Harus ia akui, Indonesia memang mempunyai banyak potensi Alam yang luar biasa dan menakjubkan. Hal itulah yang tidak pernah ia sesalkan semenjak mengenal Feba. Gadis itu sangat memahami dirinya yang begitu memiliki ketertarikan yang besar dengan Alam.
            Demian membuka mata dan menoleh menatap Feba. Gadis itu tidak sadar dirinya sedang ditatap olehnya. Ia terlihat sedang melamun. Seulas senyum samar tersungging di bibirnya. Demian ingin tahu apa yang sedang dipikirkan oleh gadis itu sekarang.
            “Ah,” Kata Feba tiba-tiba. Ia menoleh menatap Demian dengan bibir manyun dan hidung berkerut. “Aku lapar. Kita sama sekali belum menyantap apapun sejak tiba di Bali.”
            “Benar. Baiklah, aku akan pergi memesan makanan.”
            “Ah, tidak!” Feba menahannya. “Biar aku saja.” Ia turun dari batu besar yang ia duduki, lalu mengibaskan tangan berkata, “Tunggulah aku di Tree House. I’ll be back soon.” Demian hanya bisa tersenyum sementara Feba berlari-lari kecil meninggalkannya pergi ke arah Pirate Kitchen yang berada tak jauh dari sana. Ia menarik napas dalam-dalam dan menengadah memandang langit biru yang membentang. Langit hari ini terlihat cerah tanpa awan putih yang berbekas. Matahari pun bersinar terik tanpa ada yang menghalangi. Langit dan lautan yang sama-sama berwarna biru itu seakan menyatu tanpa batas dan tak berujung. Musim panas bukan hanya menghangatkan tubuhnya, tetapi juga menghangatkan hatinya.
            Tepatnya sejak ia mengenal perempuan itu. Untuk pertama kalinya ia jatuh cinta pada Wanita setelah sekian lama.
            Feba Clarina, yang membuatnya tertarik sejak pertama kali bertemu di Pasion Del Cielo. Kenangan lama terungkit kembali dan akhirnya membawa Demian kembali pada gadis itu.
            Ia berjalan melintasi pasir putih yang menjalar di sepanjang langkah kakinya menuju Tree House. Otaknya masih melayang memikirkan perubahan dirinya saat ini. Demian yang tidak pernah bergantung pada orang lain, mulai merasakan sesuatu yang sangat berbeda bila bersama dengan Feba. Ia jujur mengakui, kalau dirinya sangat membutuhkan gadis itu.

*****



TREE HOUSE

            Feba berjalan kembali menghampiri Demian yang menunggunya di Tree House. Hari itu merupakan hari yang menyenangkan untuknya. Langkah kakinya yang riang dan ringan mengalun berirama menaiki tangga-tangga kayu yang kecil menuju Tree House. Beberapa orang Wanita memakai kain Kamen dengan motif ragam Batik dan Barong mengikutinya naik ke Tree House sambil membawa nampan berisi makanan yang dipesan oleh Feba.
            Feba melepaskan Pink Vest-nya dan meletakkannya di sofa yang berada tidak jauh darinya lalu membantu pelayan-pelayan Wanita itu menyajikan makanan di atas meja yang terbuat dari kayu. Demian duduk di bangku panjang meja makan berhadapan dengan Alam lepas dengan pemandangan laut biru dan pasir putih yang terhampar luas sejauh mata memandang. “Wow! Hari ini kita makan besar,” gumamnya. “Lihatlah, kau memesan beraneka menu.”
            “Kuharap kau akan suka. Kau harus mencicipi berbagai Indonesian Cuisine selagi kau di sini, Dem.” Kata Feba sambil duduk di sebelah Demian.
            “Ya. Aku bukanlah tipe pemilih dalam urusan makanan. Kau ingat ketika membuatkan Rendang waktu makan malam kita di Apartemen milik Rein? Aku menyukainya. Aku akui aku adalah pencinta masakan Asia.”
            Feba tersenyum lebar. “Aku tahu, aku tahu. Kau pernah mengatakannya.” Katanya sambil meletakkan piring di depan Demian.
            “Benarkah?” Demian terlihat heran.
            “Kau tidak ingat? Kau mengatakannya ketika mengajakku makan gratis di restoran Jepang di Miami.”
            Demian memiringkan kepala, berpikir sejenak, lalu menggeleng.
            Feba terkesiap dramatis, pura-pura terkejut. “Bagaimana kau bisa melupakannya, kau sampai membuatku merasa bersalah hanya untuk sekedar mengetahui namaku. Kau mengajakku makan Sushi hari itu. Kau tidak ingat sama sekali bagaimana aku mengalahkanmu dalam lomba makan Sushi kita? Kupikir kau akan mengingatnya dengan baik. Itu adalah kencan pertama kita.”
            “Kencan?” Demian tertawa lepas. “Aku ingat. Kau memberikan kesan yang mendalam padaku sehingga membuat aku semakin ingin tahu lebih banyak tentangmu.”
            Feba mengerutkan hidung dan tersenyum malu mendengarkan ucapan Demian barusan. “Perkataan apa barusan? Kau membuatku malu.” Ia terdiam sejenak, melirik Demian, dan melanjutkan, “Aku sempat mengira laki-laki itu kau, bodohnya aku yang beranggapan kalau ternyata laki-laki yang kucari adalah Rein.” Jelasnya mengenang.
            Demian menatap mata Feba dan menyunggingkan senyum yang entah kenapa selalu membuat Feba salah tingkah. “Enough, aku tidak ingin mendengar cerita flashback untuk ke sekian kalinya. Bisa kita mulai makan sekarang?”
            Feba berdeham dan memalingkan wajah dan melihat semua makanan yang tersaji di hadapannya secara bergantian. “Ada Chicken Sandwich Mayo, Calanari and Chip, Banana Chocolate Crepes, Fried Ice Cream, kau mau mencoba yang mana dulu?”


 CHICKEN SANDWICH MAYO


CALAMARI AND CHIP
 

BANANA CHOCOLATE CREPES
 

FRIED ICE CREAM
 
                      Demian melihat dari satu piring ke piring lainnya dengan tatapan bingung.
                “Ah, kau harus mencoba Bebek Bengil ini. Menu ini adalah menu populer di The Bay Bali.” Kata Feba memberi saran lalu menyendokkannya ke dalam piring milik Demian. Demian menyantapnya dalam potongan kecil lalu mendecakkan lidah. “This is the first time I ate duck, seriously!”
                   Feba tertawa melihat ekspresi Demian. “How the taste? Enak bukan?”



BEBEK BENGIL dengan sambal mata

            Demian mengangguk mengiyakan lalu mengambil sendoknya dan mulai menikmatinya bersama Nasi dan sambal goreng. “Rasanya original dan renyah.” Ia menoleh pada Feba sambil mengangkat alisnya secara berulang. “Aku berharap kau membuatkan makanan seperti ini untukku setiap hari.”
            Feba berteriak lalu tertawa. “Tenanglah! Aku adalah kokimu sekarang.” Mereka berdua tertawa bahagia diantara suara debur ombak yang menderu dan kicauan burung-burung kecil di atas pohon. “Nikmatilah makananmu. Kita masih mempunyai banyak schedule yang harus kita lakukan selama kita di sini.”
*****



            Demian dan Feba duduk bersebelahan. Feba menyandarkan kepalanya di bahu Demian. Mereka duduk di atas pasir putih sambil menyaksikan pemandangan matahari terbenam di garis batas antara lautan dan langit. Langit biru cerah itu seketika berubah menjadi warna lembayung yang mempesonakan mata untuk menikmati pemandangannya.
            “Oh, ya. Coba lihat apa yang kubeli ketika kita tiba di bandara,” katanya sambil membuka kantong pelastik berwarna putih yang ia selipkan diantara Beach Pareo-nya yang berwarna Tosca. “Taraaaaa!”
            Demian mengerjap menatap sebuah topi berwarna coklat dengan motif batik yang diacungkan Feba. “Apa itu?”
            “Kau harus mengenakan ini. Ini adalah Udeng. Penutup kepala khas Bali. Laki-laki Bali juga memakainya. Aku ingin melihatmu memakai ini Demian. Jangan kau lepas sampai acara Fire Dance-nya selesai.” Feba meletakkannya tepat di atas kepala Demian sementara Demian hanya menatap gadis itu dengan alis mengkerut. “Kita harus berfoto. Mana kameramu? Aku akan meminta seseorang untuk memotret kita.”
            Demian menyerahkan kameranya dan Feba segera mencegat seorang Pria Turki yang berjalan lewat di depan mereka sambil menggandeng peralatan Snorkeling-nya. “Senyum,  oke?” Kata Feba ketika ia kembali lagi ke sisi Demian.
            “Kapan aku tidak tersenyum ketika bersama denganmu?” Demian balas bertanya.
            Feba berpikir sejenak sambil bergumam, “Hm…. Tidak pernah.”
            “Benar. Sekarang mari kita selesaikan ini sebelum acara Fire Dance-nya dimulai.” Kata Demian sambil merangkul bahu Feba dan menariknya lebih dekat.
            Feba menahan napas tanpa sadar dan jantungnya berdebar lebih kencang dari sebelumnya. Satu kali jepretan sudah mengisi kamera milik Demian. Feba mendongak menatap Demian dan mengerjap. Laki-laki itu mencium keningnya dengan hangat. Momen itu diabadikan oleh kamera yang sedang dipegang oleh Pria Turki di depan mereka. Feba tidak berkata apa-apa setelahnya. Demian melepaskan rangkulannya dan berjalan menghampiri Pria itu sambil tak lupa mengucapkan terima kasih. Demian berjalan mendekati Feba lalu menyodorkan kamera agar perempuan itu bisa mengamati dengan jelas hasil pengambilan gambar mereka barusan. “Bagus bukan?” Tanya Demian tidak berhenti tersenyum.
            Feba mengamatinya lebih seksama. Hasilnya memang sangat cantik. Foto mereka berdua, yang berupa siluet berlatar warna lembayung matahari terbenam tepat di belakang mereka. Satu kebahagiaan tak terkira tersirat di benaknya. Feba mulai menyadari, laki-laki itu, hanya dia yang bisa membuat Feba merasa berdebar-debar tanpa henti. “Kau terlihat manis memakai Udeng itu.” Feba terdengar memuji. Demian hanya membalas dengan senyuman malu mempesona khasnya.
            “Lihat, orang-orang mulai berkumpul. Sepertinya acara Fire Dance-nya akan segera di mulai. Ayo kita bergabung.” Kata Demian sambil menggenggam tangan Feba dengan hangat. Jari-jemari mereka saling berhimpitan. Feba merasakan wajahnya memanas. Nothing can explain what I feel right now. Unlimited happiness inside, with him by my side.
            Mereka bergabung dengan beberapa orang lainnya yang sudah berkumpul di dekat api unggun yang begitu besar. Banyak wisatawan asing di sana sudah duduk membentuk barisan rapi untuk menyaksikan pertunjukkan Fire Dance. Feba duduk tepat di sebelah Demian. Laki-laki itu sibuk memotret sekelilingnya.




FIRE DANCE

            Ketika semua orang telah berkumpul pertunjukkan pun segera dimulai. Fire Dancer-nya melakukan adegan yang sangat menegangkan. Bukan hanya laki-laki yang melakukannya tetapi, perempuan pun juga dapat melakukan adegan berbahaya itu. Mereka berkolaborasi bersama. Memainkan api dalam berbagai jenis adegan yang berbeda-beda. Sorak-sorai penonton mulai terdengar diselingi dengan tepuk tangan riuh mereka. Demian menikmatinya. Ia bahkan melakukan standing applause. Feba tahu, mungkin itu adalah kali pertama Demian menyaksikan pertunjukkan seperti itu secara langsung.
            “Mereka hebat!” Bisik Demian di telinga Feba dengan takjub.
            “Kau menikmatinya?” Tanya Feba dalam suara yang keras karena keramaian suara musik dan suara penonton nyaris mengalahkan suaranya. Demian mengangguk. Feba membalas dengan seulas senyuman bahagianya.
            Pertunjukkan Fire Dance berakhir kemudian disusul dengan pertunjukkan tari khas Bali. Penari-penari Wanita itu mulai berjalan memasuki kerumunan penonton dan mulai menari dengan bahagia. Sekali lagi Demian memberikan tepuk tangan meriah diselingi teriakannya. “Indonesia has lots of Arts. Not just in foods but also in everything. Glad to be here!”
            Feba menarik lengan Demian dan mengajaknya ke sisi lain pantai. Mereka berbaur bersama orang-orang lain yang bersiap-siap untuk menerbangkan lampu lentera. Feba melepaskan lengan Demian dan berjalan mendekati sang penjaga pantai yang sedang membagi-bagikan lampu-lampu lentera yang akan mereka terbangkan. Feba mengambil dua lentera, satu untuk ia berikan pada Demian. Demian mengalungkan kameranya lalu mengambil lentera yang diberikan oleh Feba padanya.
            “Kita tidak boleh melewatkan ini.” Kata Feba dengan nada riang. “Mereka terlihat cantik bukan? Seperti bintang.”
            Demian menoleh pada gadis itu. Ia menatap wajah Feba yang diterpa cahaya lampu lentera. Cantik sekali. Senyuman itu yang membuatnya jatuh cinta. “Feba, kau ingin punya berapa anak?”
            Pertanyaan tiba-tiba itu membuat Feba menoleh cepat pada Demian. “Apa?”
            “Kau ingin punya berapa anak?” Ulang Demian, matanya yang berwarna pirus itu balas menatap Feba. “Kalau sudah menikah nanti, maksudku.”
            Feba mengerjap. “Kau mengajakku menikah?”
            Demian menyikut lengan Feba dan menggerutu. “Jangan salah sangka dulu. Aku tidak mengajakmu menikah. Aku hanya bertanya.”
            Feba mendesah dengan keras. Memandang jauh ke langit gelap. Ia melihat beberapa orang sudah menerbangkan lampu lentera mereka. “Hm… Yang penting lebih dari satu. Kau tahu aku anak tunggal kan? Sendirian membuatku sering merasa kesepian.” Ia terdiam, lalu kembali menatap Demian. “Mungkin tiga, itu akan lebih baik bukan?”
            Demian mengangkat bahu. “Kurasa begitu. Laki-laki atau perempuan?”
            Giliran Feba yang mengangkat bahu. “Yang mana saja terserah. Aku tidak keberatan.” Ia terdiam sejenak pura-pura berpikir keras. “Apa mungkin ini caramu melamarku?”
            Demian langsung memalingkan wajahnya dari tatapan Feba. “Seandainya aku memang melamarmu,” balas Demian santai, “Apa jawabanmu?”
            Feba menatapnya selama beberapa saat, lalu memandang kosong pada lampu lentera yang sedang ia pegang dengan kedua tangannya. “Apa kau percaya pada bintang jatuh Demian? Apa kau percaya permohonan yang diucapkan ketika mereka melintas bisa terkabulkan?”
            “Em, tidak juga.” Gumamnya tidak yakin.
            “Ketika mereka menerbangkan lampu lenteranya, mereka tidak akan lupa untuk mengucapkan permohonan mereka. It’s like send message to the sky.” Ia menoleh pada Demian. “Kau penasaran dengan jawabanku akan pertanyaanmu barusan, kan? Aku tidak akan bilang. Cukup waktu yang kubiarkan menjawabnya. Aku takut harapanku tidak sesuai dengan kenyataan, Dem.” Feba berjalan bergabung bersama orang-orang lainnya. Demian mengikutinya dan masih setia berdiri beriringan dengan gadis itu. “Ucapkan pesanmu kepada langit Demian. Kita akan menerbangkan lenteranya sekarang.”


LANTERN

            Demian melirik pada Feba sesaat. Gadis itu memejamkan matanya. Bisa ditebak, ia pasti sedang mengucapkan permohonannya sekarang. Demian ikut hanyut dalam suasana tenang walaupun hiruk pikuk terdengar samar-samar di telinganya. Ia mengucapkan permohonannya dalam hati, berharap pesan yang akan ia layangkan ke langit dapat didengar dan dikabulkan. Jika gadis yang sedang bersamaku ini adalah jodohku, jangan pernah biarkan ia jauh dariku. Jika bintang di langit memang dapat mengabulkan permohonan, tolong biarkan aku mewujudkan kebahagiaannya apapun itu.
            Feba melepaskan lampu lenteranya ke udara. Efek panas dari lilin yang berada di tengahnya membuat lampu lentera itu terbang jauh ke langit bersama hembusan angin musim panas. Demian pun melepaskan lampu lenteranya ke udara. Keduanya mengamati langit tepat di atas kepala mereka. Lampu lentera itu berjejer, menyala, seakan membentuk jembatan ke langit.
            Feba melirik Demian sejenak. Ia menatap kosong pada laki-laki itu. Seandainya kau tahu jawabanku, Dem. Siapapun, perempuan di dunia ini akan sangat bahagia bila dapat dicintai oleh orang yang ia cintai. Kebahagiaan itu akan sempurna, ketika orang itu juga yang akan menjadi pendamping hidupnya hingga tua. Memilikimu di sini sekarang, di sebelahku, adalah satu kebahagiaan yang tidak akan bisa ditukar dengan apapun.
            “Hey, dude! Wanna sing a song?” Seorang Pria Aussie menepuk pundak Demian hingga menyadarkan Feba dari lamunan sesaatnya. Pria itu menawarkan Ukulele padanya. Demian menyambutnya dengan senang hati.
            Demian menarik lengan Feba dan bergabung bersama orang-orang lainnya di dekat api unggun. Ia memberi kode pada Feba agar duduk manis. Feba tersenyum. Laki-laki itu berjalan ke tengah-tengah kerumunan orang dan mulai memainkan Ukulelenya berdua bersama Pria Aussie itu. Petikan Ukulele itu mulai mengalun hingga ke telinga Feba. Feba menggerakkan tubuhnya mengikuti nada petikannya. Begitupun dengan orang lainnya yang juga berkumpul di tempat itu. Demian memberikan kode kepada Feba dengan bibirnya yang bergerak tanpa suara. Feba melihatnya samar-samar. Jika ia tidak salah, mungkin Demian mengatakan, “This song is for you.”



            My heart is sinking, As I’m lifting up above the clouds away from you.
            And I can’t believe I’m leaving, Oh I don’t kno-kno-know what I’m gonna do.
            But someday, I’ll find my way back to where your name is written in the sand.

            Reff:
            Cause I remember every sunset, I remember every word you said.
            We were never gonna say goodbye, singing la-da-da-da-da.
            Tell me how to get back to, back to summer paradise with you, Oh-oh
            And il’ll be there in a heartbeat, Oh-oh, I’ll be there in a heartbeat.
            Yeah, I remember sunny mornings, And summer evenings
            Now you’re next to me and I am freezing, was it real?
            Oh baby, tell me, was I dreaming? How can you show me paradise when I’m leaving.


            Feba tersipu malu mendengar setiap lirik yang dinyanyikan Demian untuknya. Bila dunia bertanya padanya, apakah kau bahagia? Feba tidak akan pernah takut untuk menjawab dengan suara  lantang bahwa ia sangat bahagia bisa bersama laki-laki itu. Demian adalah arti dari kebahagiaan yang tercurah dalam senyuman manisnya yang merekah setiap hari. Terima kasih sudah mau menjadi bagian dari hidupku, Dem!
*****


BLOG POST INI DIBUAT DALAM RANGKA MENGIKUTI PROYEK MENULIS LETTERS OF HAPPINESS. SHARE YOUR HAPPINESS WITH THE BAY BALI & GET DISCOVERED!

Tuesday, January 14, 2014

CINTA SEBENING SALJU MUSIM DINGIN


             



             Honda Ryuta, adalah seorang wanita yang hampir berumur 5o tahun. Walaupun dimakan oleh usia, ia bahkan masih menjalani hidupnya layaknya perempuan umur 20 tahunan. Ia masih suka menghabiskan waktunya dengan jalan-jalan, berbelanja, ataupun melakukan hal-hal yang sering dilakukan oleh anak-anak muda jaman sekarang.
            “Ryuta!” Suara melengking itu menyebutkan namanya dengan napas terengah-engah. Suara yang dikenali Ryuta dengan baik. Itu adalah suara milik Sena. “Maaf ya, lama menunggu.”
            “Tidak apa-apa. Aku juga menikmati waktuku. Ayo kita pergi!” Ryuta mengajak Sena keluar dari toko buku itu dan pergi berkeliling. Mereka berhenti di sebuah gerobak penjual ubi rebus. Ryuta mengajak Sena duduk di pinggiran jalan sambil menikmati ubi rebus yang masih panas di bungkus dengan kertas roti.
            Mereka duduk tepat berhadapan dengan sebuah butik. Lama mata Ryuta memandang sebuah gaun putih terusan yang terpajang di etalase tepat di depannya. “Hei, Sena-chan! Gaun terusan putih itu pasti cocok untukmu. Menurutku, sayang sekali kalau tak pakai gaun putih selagi muda.”
            “Ryuta, aku mau bicara….” Sena tak menghiraukan perkataan Ryuta barusan. Ia tertunduk malu-malu saat mengatakan ia ingin bicara tentang sesuatu pada Ryuta.
            “Kau tahu, putriku, dia cantik sekali! Tapi, dia malah memilih pergi keluar negeri dan kawin lari.”
            “Iya. Iya. Aku tahu. Aku pernah melihat fotonya.”
            “Dia bahkan tidak mengadakan resepsi dan langsung ke Inggris bersama bule.” Ryuta menjelaskan dengan kesal.
            “Ryutaaaaaa, aku mau mendiskusikan sesuatu.” Sena setengah memelas. Ia memohon agar Ryuta mau mendengarkannya.
            “Sena tidak suka ubi rebus pake krim, ya? Aku sih mau, karena gula darahku rendah.”
            “Ryutaaa!” Sena menggenggam kedua tangan perempuan itu. Ia lalu mengerjap beberapa kali. “Ryuta! Aku…. Aku menyukai seseorang!”
            Sena Misuzuki, adalah seorang guru TK. Di umurnya yang sebentar lagi menginjak 23 tahun, ia sama sekali belum pernah merasakan yang namanya pacaran. Ia payah sekali dalam urusan laki-laki. Mendengarnya mengatakan kalau dia menyukai seseorang, jelas saja mengagetkan untuk Ryuta sendiri. Ryuta mengenal Sena dengan sangat baik. Pertama kali ia bertemu dengan Sena di kursus Kimono, perempuan itu terlihat begitu pemalu. Ia juga sangat alim dan penyendiri. Ryuta tak percaya, ternyata Sena yang pemalu itu bisa menyukai seseorang.
            “Siapa dia?” Ryuta ikut berjinjit mengintip sebuah restoran Itali yang berada di seberang jalan. Sena bersembunyi di balik bahunya yang kecil sambil diam tak bersuara. Ryuta berpikir, Sena luar biasa bisa menemukan seseorang yang di sukainya di sudut kota Tokyo. Ini bahkan kali pertama Ryuta melihat restoran itu semasa hidupnya.
            Laki-laki yang dimaksudkan oleh Sena merupakan laki-laki yang berwibawa. Ia cepat dan cekatan. Penampilannya pun terbilang menyerupai orang berkelas. Rambutnya hitam dan wajahnya begitu khas orang Jepang semestinya. Ia tinggi dan memiliki alis tebal dengan mata tidak terlalu sipit.
            “Sena, dia tipe laki-laki kesukaanku.”
            “Ryuta kan sudah punya suami?”
            “Aku serius! Dia tipe kesukaanku. Aku tidak yakin bisa mendukungmu.” Ryuta tertawa.
            “Ah.” Sena tertunduk lesu.
            “Hey, aku bercanda. Jangan sedih begitu!” Ryuta membujuknya. “Orangnya seperti apa?”
            “Dia adalah pemilik restoran itu. Aku tidak tahu siapa namanya. Kadang-kadang, aku dan beberapa guru TK lainnya sering membeli makan siang di restorannya. Aku melihatnya ketika itu. Ryuta, kau tahu, dia bahkan pintar bahasa Itali!” Sena menjelaskannya dengan bangga.
            Ryuta melihat perempuan itu menyembunyikan wajahnya yang memerah karena menahan malu. Suara degup jantungnya pun terdengar samar-samar diantara keramaian di pinggiran jalan. Suara angin musim dingin pun tidak dapat menyembunyikan perasaan Sena yang meluap-luap. Perempuan yang sedang jatuh cinta itu ibarat salju. Putih, bersih dan dingin. Ia dingin, karena membekukan hatinya demi perasaannya untuk seseorang.
            Ryuta duduk di depan sebuah kotak kardus besar berwarna coklat sambil asik menyenandungkan lagu dalam bahasa Jepang. Ia terlihat senang sekali. Kyusuke, suaminya, terus menatapnya sedari tadi yang bertingkah tidak seperti biasanya.
            “Ada apa? Kau senang sekali?” Ia lalu membuka lembaran Koran berikutnya. “Akhirnya, kau merapikan barang-barang juga.”
            “Memang masih dingin. Tetapi, sebentar lagi bulan Desember akan berakhir.” Perempuan tua itu kembali mengenang. Pikirannya menelusuri berbagai kenangan yang tertinggal jauh di belakang. Ada beberapa kenangan yang sulit untuk ia lupakan namun tak bisa untuk ia bagikan kepada orang lain. Walaupun Ryuta terlihat begitu ceria dan enerjik setiap harinya, siapa yang mengira perempuan itu nyatanya menyimpan sebuah kesedihan yang ia tutup rapat-rapat. Ia akan selalu kembali pada kenangan di masa itu ketika musim dingin dimulai ataupun bahkan hampir berakhir.
            “Sudah lama juga ya. Padahal, mungkin saja Misato masih ada di sini.”
            Ryuta memandang kosong ke suaminya. Ia bahkan tidak mengeluarkan sepatah katapun. Bibirnya terkatup rapat dan keningnya terangkat. Ia tidak berpikir kalau sekarang adalah waktu yang tepat untuk kembali terhanyut dalam kepedihan yang dulu nyaris membuatnya putus asa. Perempuan itu tersenyum sesaat lalu tertawa.
            Kyusuke meliriknya sekali lagi. “Ada hal yang menyenangkan, ya?”
            Ryuta mengangguk pelan. “Musim dingin kan, musim yang penuh dengan cinta.” Ia memikirkan Sena. Perempuan itulah yang membuatnya sering tertawa-tawa sendiri. Tiap kali memikirkan Sena, Ryuta akan ikut merasa senang. Ia akan selalu mengingat saat Sena yang pemalu itu berbagi cerita padanya. Sena selalu bertanya dalam kebingungannya, apa yang harus aku lakukan sekarang? Tentu saja, Ryuta sangat senang karena Sena mengandalkannya.
            Sore itu, mereka merencanakan untuk makan malam di restoran milik laki-laki yang di sukai oleh Sena. Ryuta sudah tampil cantik dan mencolok.
            “Wah, harga makanannya tidak begitu mahal.” Ryuta mengomentari buku menu.
            “Ryuta, topimu….” Sena terus menatap topi milik Ryuta yang memiliki bunga-bunga di setiap sisinya dan menurutnya itu terlalu berlebihan.
            “Maafkan aku. Aku sengaja dandan, karena kupikir ini adalah restoran mewah. “ Ia tertawa. “Kau harus tahu banyak tentang dia. Jangan lupa, tanyakan siapa namanya. Dia harus tahu namamu. Kalian harus berkenalan. Kita sudah susah payah datang kesini. Berusahalah!”
            “Selamat datang.” Laki-laki itu menghampiri meja Sena dan Ryuta. Ia membawakan dua gelas berisi air mineral dingin lalu meletakannya tepat di depan keduanya. “Lho! Anda guru TK yang sering datang kesini kan?” Ia memastikan kalau itu memang pelanggan yang dikenalinya. “Kali ini datang bersama Ibu, ya?” Ia tersenyum.
            “Ah, tidak juga.” Ryuta tertawa kecil. Ia lalu memberi kode pada Sena agar segera menanyakan nama laki-laki itu.
            Sena terlihat gemetaran. “Ah,” Wajahnya memerah seketika ketika laki-laki itu menatap lurus padanya tanpa berkedip. “Aku pesan menu untuk dua orang.” Ia meremas kedua tangannya. Ia jelas saja tidak akan bisa menanyakan nama laki-laki itu.
            Walaupun Ryuta terus menyemangatinya, Sena sama sekali tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun dari mulutnya ketika ia berhadapan langsung dengan laki-laki itu. Seperti seorang perempuan bodoh yang mati kutu.
            Sena tak berbicara sedikit pun mengomentari makanan yang mereka nikmati barusan. Tak lama setelahnya, perempuan itu menangis. Air mata mengucur dari kedua bola matanya yang bulat dan hitam. Ia bahkan meraung-raung dengan pelan. “Aku, selalu saja seperti ini setiap kali menyukai seseorang. Hanya berani melihatnya dari jauh. Padahal, jelas-jelas ada banyak kesempatan untuk mengajaknya bicara. Aku memang bodoh! Tak bisa berbicara dengan berani. Mungkin, memang aku di takdirkan untuk hidup sendiri selamanya.”
            Ryuta ikut berjongkok tepat di sebelah Sena. Ia menepuk pelan bahu perempuan itu. “Tak bisa? Memangnya Sena sudah gagal berapa kali? Sena tetap mengambil langkah ke depan dan tidak menyerah bukan?” Ia melihat Sena mulai mengangkat wajahnya. Wajahnya memerah dan terlihat sembab. Butiran salju yang putih itu berkumpul di atas kepalanya, di atas rambutnya yang hitam. Ryuta membuka dompetnya dan menyodorkan sebuah foto pada Sena. “Lihatlah! Ini foto putriku.”
            “Aku sudah sering melihatnya Ryuta. Aku bahkan tidak tahu dia mirip siapa.” Suaranya serak.
            “Dia menyukai guru bahasa Inggrisnya. Tapi, dia bahkan tidak bagus dalam bahasa Inggris. Dia payah, percintaannya pun kacau. Dia selalu saja menyalahkan dirinya setiap saat. Dia bahkan sering mengoceh banyak hal yang tak masuk akal, termasuk mengapa ia tak dilahirkan di Inggris saja supaya dia jago berbahasa Inggris.” Ryuta menghela napas panjang. Ada asap mengepul keluar dari napasnya yang berhembus. “Tapi, aku ingat kata-katanya yang selalu ia ucapkan padaku. Katanya, bisa disukai oleh orang yang kita sukai adalah sebuah anugrah.”
            Sena lalu tersenyum. Ryuta sangat senang melihat gadis itu tidak sedih lagi. “Ryuta pernah ke Inggris?”
            Ryuta mengangguk. “Pernah sekali.” Katanya sambil mengacungkan jadi telunjuk kanannya. “Orang Inggris jalannya cepat. Lebih cepat dari orang Osaka!”
            Sena menyeka air matanya dan terus bertanya tentang Inggris kepada Ryuta. Ia akhirnya merasa lebih baik. Setelah mengeluarkan segalanya yang mengganjal hatinya, akhirnya perempuan itu merasa bebannya sudah hilang walau tak sepenuhnya.
            Keesokan harinya, di pagi hari yang cerah, saat matahari malu-malu menampakkan dirinya dan salju yang masih saja turun bertebaran dari langit. Sena memantapkan langkahnya. Restoran itu bahkan sudah terlihat dengan jelas dari kejauhan. Laki-laki yang disukainya sedang sibuk mengatur-atur beberapa kotak makan saat restorannya baru saja di buka.
            Senyuman laki-laki itu merekah menyambut pelanggan pertamanya pagi itu. Ia adalah Sena Misuzuki. Perempuan itu lalu menyodorkan sebuah tempat bekal yang dibungkus dengan serbet cantik berwarna merah kotak-kotak. “Aku membuat banyak kue Ohagi. Silahkan dimakan. Ini sebagai ucapan karena waktu itu memberikan aku makanan penutup gratis.” Katanya dengan terbata-bata.
            “Terima kasih.” Laki-laki itu tersenyum.
            “Namaku, Sena Misuzuki. Aku tak punya maksud apa-apa. Hanya ingin berkenalan denganmu.” Katanya sambil membungkukkan badannya.
            Sepertinya hari itu langit kota sushi itu memang sedang cerah. Sena tak menyangka ia mendapatkan alamat email laki-laki itu.
            Sena terlihat sangat senang. Ia menceritakannya kepada Ryuta dengan semangat yang menggebu-gebu. Sena sudah berjanji pada Ryuta, kali ini ia akan benar-benar berusaha dengan keras dak tak akan mengandalkan Ryuta lagi. Ia berjanji pada dirinya sendiri, ia akan mengejar sendiri kebahagiaannya.
            Ryuta menyusuri jalan setapak diantara dua buah bangunan tinggi yang saling berhimpitan. Ia masih saja memikirkan kata-kata Sena yang berhenti untuk mengandalkannya dan jujur saja perempuan itu agak sedih mendengarnya. Matanya terpaku pada sosok seorang laki-laki di depannya. Ia mengenali laki-laki itu. Orang yang di sukai oleh Sena.
            Laki-laki itu berdiri berdampingan dengan seorang wanita berambut pirang. Ryuta melihat perempuan yang digandeng oleh laki-laki itu tengah hamil. Ryuta tak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya. Ia tidak mampu untuk mengeluarkan sepatah katapun. Pikirannya melayang jauh. Ia memikirkan Sena. Bagaimana perempuan itu jika ia tahu tentang ini?
            Sena berjalan sambil sesekali menggosokkan kedua telapak tangannya yang kedinginan lalu kembali memasukkannya ke dalam saku jaketnya yang tebal. Ia masih merasakan dingin yang amat sangat walaupun sudah memakai berlapis-lapis pakaian dan jaket wol yang tebal. Langkahnya terhenti begitu ia melewati sebuah butik yang beberapa waktu yang lalu ia lihat bersama Ryuta. Sebuah gaun putih terusan  itu masih terpajang dengan indah di salah satu manekin di etalase. Ia lalu mengingat kata-kata Ryuta, bahwa gaun itu cocok untuknya. Tanpa pikir panjang, ia berjalan memasuki butik tersebut dan tak lama keluar dengan sebuah bungkusan cantik dari kertas berlabelkan nama butik tersebut. Sena membelinya. Ia akan mengenakan gaun itu untuk makan malam dengan laki-laki sang pemilik restoran Italia. Harga gaun itu bahkan lebih mahal dari yang dia kira. Namun, ia tidak menyesalinya. Sena berpikir bahwa ia harus terlihat cantik saat makan malam itu.
            Seyuman Sena terus terpajang di bibirnya yang tipis. Bahkan dinginnya musim dingin pun mendadak tak terasa lagi olehnya. Ia menghentikan langkahnya begitu melihat Ryuta dari kejauhan. Ia melangkah dengan pelan mendekati perempuan itu dan ternyata itu memang Ryuta. Perempuan itu sedang berdebat dengan seorang laki-laki yang ternyata ia kenal. Laki-laki itu adalah orang yang ia sukai. “Ryuta, ada apa?” Ia bertanya lalu berlari kecil mendekati mereka.
            Ryuta terlihat kaget melihat Sena sudah berdiri di depannya. Belum sempat ia menjelaskan apa yang terjadi ketika laki-laki itu mulai berbicara mendahuluinya.
            “Misuzuki, maafkan aku. Aku sudah membuat Ibumu cemas. Makan malam itu, kita batalkan saja. Kau boleh mampir ke restoranku lagi kapan-kapan.” Laki-laki itu berlalu begitu saja. Sena pun bahkan tak sempat menahannya. Ia bahkan tidak mengerti sepenuhnya dengan apa yang dimaksudkan olehnya.
            “Tunggu!” Ia berusaha untuk mencegatnya walaupun ia tahu itu sia-sia.
            “Biarkan saja! Dia tak pantas untukmu Sena.” Ryuta menarik lengan gadis itu. Tak sengaja, tas pembungkus gaun yang dibeli oleh Sena terlempar begitu saja, terseret jauh di atas tumpukan salju di pinggiran jalan lalu terlindas kendaraan yang melintas.
            Raut wajah Sena berubah. Ia terlihat sedih dan juga kesal. “Kenapa?” Suaranya serak. Perempuan itu menangis sekarang. “Kenapa kau yang putuskan kalau laki-laki itu tak pantas untukku? Apakah karena kau tidak menyukainya? Kau kejam! Kau mengacaukan percintaan orang karena tak bisa mengurusi anakmu lagi!!!”
            Ryuta tak menjawab. Hatinya terasa sakit. Ia mungkin sudah melukai perasaan Sena. Tak ada gunanya ia masih tetap bertahan di tempat itu. Walaupun tak ingin dan terlihat ragu, ia memutuskan untuk pergi. Sena tak akan mau melihatnya lagi. Ia sudah benar-benar menghancurkan perasaan perempuan itu. Malam itu, bahkan ketika salju turun dengan derasnya. Air mata Sena pun tak dapat dibendung. Ia terus bersedih. Tangannya bahkan gemetaran diantara menahan  dinginnya malam dan menahan kekesalannya kepada Ryuta yang bahkan belum sempat ia berikan kesempatan untuk menjelaskan.
            Pagi itu, Sena terlihat suram. Ia tidak punya semangat seperti hari-hari biasanya. Ia bahkan menjadi pusat perhatian semua guru-guru TK lainnya. Salah seorang rekannya menghampirinya. Ia tahu bahwa Sena menyukai sang pemilik restoran itu. Walaupun takut-takut ia menghampiri Sena yang duduk di meja kerjanya tanpa senyuman sedikit pun.
            “Kenapa? Apa kau sudah dengar beritanya?” Katanya berbisik. “Tentang laki-laki yang kau sukai itu. Dia sudah punya istri. Ternyata, ia jago selingkuh!”
            Sena berdiri dari tempatnya duduk. Ia tak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan oleh rekannya itu. Dipikirannya, terlintas Ryuta. Bagaimana Ryuta sekarang? Dia sudah sangat bersalah. Mengatakan kata-kata yang tidak semestinya pada perempuan itu dan bahkan tidak memberikannya kesempatan untuk menjelaskan semuanya.


            Musim dingin rasanya baru saja dimulai, namun sekarang hampir berakhir. Ryuta berdiri di ambang pintu sambil menengadahkan kepalanya menatap langit dan terus melihat salju yang turun tanpa henti-hentinya. Tiga tahun sudah berlalu, ia kembali mengenang kematian putrinya, Misato.
            “Cantiknya.” Gumamnya.
            Ryuta berpikir, mungkin dirinya terlalu egois. Menganggap Sena adalah Misato dan terlalu ikut campur dalam urusan hidup perempuan itu. Ia menangis. Di bawah putihnya salju yang turun, ia menyesali perbuatannya yang akhirnya malah menyakiti Sena. Dia selalu bertanya-tanya apakah Misato, putri kesayangan satu-satunya itu bahagia di surga? Ia ingin membuat orang lain bahagia, agar dia bisa yakin bahwa Misato pun bahagia di atas sana. Sesungguhnya, Ryuta ingin sekali. Ketika musim dingin datang, ia ingin menyambutnya dengan suka cita yang sebenarnya. Ia ingin berhenti terus hanyut dalam kenangan tentang masa lalunya yang sangat sulit ia lupakan. Sedikit lagi, ia hampir berhasil. Sena yang hampir berhasil membantunya.
            Ryuta menatap langit hitam yang gelap dengan butiran putih yang berjatuhan. Ia melihat sosok Misato tersenyum di atas sana. Mungkin hanya ilusinya, namun ia tersenyum karena bisa melihat putrinya. Sena sudah berdiri tepat di depannya berlinangan air mata yang tiada hentinya.
            “Maafkan aku.” Katanya tersedu-sedu. “Maafkan aku sudah berkata-kata kasar padamu.”
            Ryuta tersenyum. Ia memeluk Sena dengan dekapan hangatnya. “Sena cantik sekali.” Katanya di bawah langit musim dingin. “Seperti, seorang pengantin saja.”
            “Ryuta, aku memang payah dalam urusan cinta. Tapi, aku tidak akan menyerah seperti putrimu Misato. Tunggulah, sampai aku menjadi pengantin sungguhan. Akan ku perlihatkan padamu! Aku tidak akan menyerah Ryuta!”
            Meski kehilangan orang tersayang, meski menangis meraung-raung, butiran salju itu masih tetap turun tanpa henti. Walaupun hati Sena membeku dan dingin, ia masih berharap seseorang akan datang untuk menghangatkannya suatu saat nanti. Sena tidak menyesalinya. Umurnya bahkan masih panjang sepanjang perjalannya menyambut hari-hari berikutnya. Ia mempercayai, bahwa semua perempuan di dunia akan menikah suatu hari nanti. Walaupun sekarang cintanya gagal, ia bahkan tidak menyesalinya karena cintanya terhadap Ryuta tak akan ada akhirnya layaknya cinta seorang anak perempuan kepada Ibunya.
***


kisah ini akan berlanjut. tentang bagaimana perjuangan Sena mencari cinta sejatinya, demi menjadi seorang pengantin wanita yang selalu ia impikan selama ini...

@KampusFiksi #WinterStory2014

Hanna Enka