Tuesday, November 6, 2018
DUA LAPAN SEPTEMBER - Gempa, Tsunami dan Likuifaksi Palu
○ 28 september
KAU SAKSIKAN SENDIRI BAGAIMANA DIRIMU SAAT GETARAN DAHSYAT ITU DATANG
Saya mungkin kurang peka dengan apa yang terjadi di kota ini selama kurang lebih tiga tahun terakhir. Kesibukan saya sebagai ibu rumah tangga membuat saya kurang berbaur dengan berbagai kegiatan lagi seperti dulu waktu saya masih sedikit lebih muda, dan aktif dengan berbagai kegiatan. Namun bukan berarti tak tahu, mengingat kita selalu punya sosial media sebagai tempat untuk menyebarkan informasi lewat jalur cepat tanggap.
Hari itu, jumat, bertepatan dengan hari pembukaan Palu Nomoni. Kegiatan ini, sudah mulai diadakan sejak tiga tahun yang lalu, sejak walikota Bapak Hidayat dan Wakil Walikota AA Pasha menjabat. Kabarnya, memang sejak tahun pertama kegiatan ini diadakan, selalu diikuti dengan musibah hujan deras hingga banjir, atau angin kencang. Dan pada hari itu, sejak sore, Palu sudah diguncang oleh gempa. Jujur saja hari-hari sebelumnya juga Palu sudah bergetar. Akan tetapi, kami yang sudah biasa dengan itu semua santai dan tak panik menanggapi guncangan-guncangan kecil. Sampai hari itu....
Usai adzan magrib dan kami bersiap siap tuk menunaikan sholat magrib... Gempa dahsyat menggetarkan jiwa kami. Menggoyangkan bumi yang kami pijaki dengan begitu keras tanpa ampun. Seakan akan marah terhadap kami yang tinggal di atasnya. Mungkin, bagi kalian yang membaca ini tak dapat merasakan ketertakutan kami saat kejadian itu. Kalian tak merasakan bagaimana kaki kami gemetar setelah diguncang sebegitu hebatnya. 7.4 skala richter -- dengan guncangan terkocok seperti berada di dalam blender. Kami terkocok hebat hingga terlempar.
Motor yang terparkir dengan standar dua terbaring di tanah. Tembok tinggi jatuh. Bangunan tinggi retak, rubuh, jatuh rata dengan tanah. Saat itu, mungkin pertama kali aku menyaksikan gempa yang sebegitu menghancurkan tempat tinggal kami.
Tahukah kawan? Seketika sore itu menjadi seram dan suram.
Manusia berkumpul di luar rumah. Mengucapkan Astagfirullah lantang dengan berderai air mata. Kembali mengingat Tuhan saat bencana menggoncangkan bumi tempatnya berpijak. Lalu? Bagaimana kondisimu saat itu? Apakah kau menjadi salah satu dari mereka yang keluar rumah mengenakan pakaian sholatmu? Ataukah kamu, yang keluar rumah masih dengan iler di ujung bibirmu karena masih terlelap di saat panggilan waktu sholat magrib berkumandang lantang?
Sedih sebenarnya saat menulis sambil mengingat hari itu. Kita jadi melihat sendiri, bagaimana diri kita sebenarnya. Yang begitu munafik, saat bencana datang baru mengingat Tuhan sedang saat senang bertingkah tak peduli dengan melupakanNYA.
Aku bukan ahli menulis ilmu agama. Yang kutulis hanya apa yang setidaknya aku rasakan agar bisa sedikit bergema dihatimu. Wahai kau sahabat, yang menyaksikan kami dari jauh. Menonton kami dari layar tv. Ketahuilah, tiada yang bisa mengekspresikan ketertakutan kami malam itu.
Langit mulai gelap. Tiada angin berembus. Tiada suara terdengar selain hiruk-pikuk manusia lain yang saling beradu konga (kebohongan/alibi) -- tentang apa yang mereka lakukan saat gempa dahsyat itu menyapa. Ada yang awalnya bilang mau turun memasak di dapur, lalu berbohong bilang akan mengambil air wudhu. Ada yang bilang sudah mau sholat, tapi wajahnya kelihatan baru bangun dan hanya mengenakan daster bahkan mandi sore saja belum. Hanya hitungan jari, mereka yang keluar dengan mengenakan alat sholat mereka, lari keluar rumah, berpelukan dengan keluarganya sambil berderai air mata menyebut nama Tuhannya.
Di antara kecemasan itu, ketertakutan itu, tiada yang bisa dilakukan. Suara gemuruh dan getaran susulan terus-terusan datang. Malam itu terasa dingin, begitu panjang dan melelahkan. Bumi terus bergetar, berkali-kali, rasanya seakan-akan ditarik ke bawah. Setiap ada niat mau masuk ke dalam rumah, entah dengan niat ingin mengeluarkan kendaraan dari garasi, mwngambil selimut, minum atau hp yang tertinggal di dalam rumah, pasti bumi akan langsung bergetar hebat lagi dan lagi. Seperti mengajak kita bercakap: di saat seperti ini, masih ingin kau selamatkan hartamu?
Satu malam berlalu seperti dua malam.
Malam itu, 28 september -- yang kau syukuri adalah dirimu yang masih selamat, keluargamu yang masih lengkap, malam yang gelap tapi masih dianugrahi Tuhan bulan yang bersinar terang. Hanya malam itu. Walau ada mereka lain yang tak seberuntung dirimu, ditempat lain rumahnya hancur, kehilangan, dan tidak beruntung.
Malam itu, dari tempatku, aku pun tak tahu kalau sudah banyak korban. Kalau telah terjadi tsunami. Kalau ada kampung yang ditelan bumi. Sungguh tak tahu, sampai pagi esok menjelang.
○ 29 september
TAK ADA ADZAN, TAK ADA HIRUK PIKUK DOA DARI PENGERAS SUARA MASJID. HANYA BISIKAN SUARA NAPAS CEMAS MANUSIA, DAN NGOROK TIDUR LELAP MANUSIA LAIN DI KALA SUBUH DATANG
Apa kau ingin tahu bagaimana pagi hari itu datang?
Untuk pertama kalinya, tak ada doa-doa lantang dari pengeras suara masjid. Tak ada adzan subuh berkumandang.
Apa tak pilu hatimu?
Orang-orang kelelahan, sebagian tak tidur semalaman dengan rasa cemas takut terjadi sesuatu yang lebih buruk. Sebagian lagi tertidur pulas, mengorok. Tertidur seperti tak terjadi apa pun dan tak cemas akan apa pun. Tertidur sampai lupa, kalau subuh telah tiba dan langut gelap itu bahkan tak ada suara adzan dari kejauhan mengiringinya.
Pagi itu, di antara tetanggaku yang lain, Ayahku berdiri di jalanan -- lorong rumah kami yang sempit dan berbatu, di atas sejadahnya, masih dengan pakaian sholat yang ia kenakan saat kejadian magrib kemarin -- beliau mengumandangkan adzan subuh, di antara suara gonggongan anjing yang beradu, lalu disusul lagi getaran gempa yang terus terusan datang. Mungkin, getaran itu ingin memberi tahu: bangunlah kalian, yang di saat subuh, saat sebegini masih asik terlelap seolah olah tiada yang lebih penting dari tidurmu.
Bagaimana rasanya?
YA ALLAH tak pernah sebelumnya ada cobaan yang sebegini hebatnya, sudah terlalu besar dosa kami umat manusia hingga ENGKAU sebegini marahnya...
Keterbatasan informasi, listrik yang mati total, sinyal yang langsung hilang tak berbekas membuat kami tak pernah tahu apa yang terjadi di luar sana.
Jika aku ingin mengeluh takut, dan aku tak kuat melewati ini, mungkin aku tidak bersyukur. Tak tahu, di luar sana, ada yang tidak seberuntung diriku, yang telah tersapu tsunami, yang telah menjadi mayat bergelimpangan di jalanan, yang terus menjerit kesakitan meminta tolong di antara reruntuhan bangunan, yang tersedot ke dalam lumpur dengan harta dan rumahnya, yang kehilangan keluarganya, dan yang hilang semua apa pun miliknya - menjadi sebatang kara di dunia.
Tak ada yang tahu semengerikan itu di luar sana. Dua hari berlalu, dengan informasi dari mulut ke mulut kalau sudah banyak korban dan ini bukan sekedar bencana gempa biasa semata.
○ 30 September
KATANYA GEMPA DAN TSUNAMI ITU BENCANA UJIAN DARI ALLAH, TETAPI BENCANA LUMPUR YANG TIDAK BIASA ADALAH AZAB DARINYA?
Aku tak berada di sana. Bersyukur sekali mungkin karena aku tak di sana. Bersyukur karena ALLAH menempatkan aku ditempat terbaik, dan masih diberi kesempatan untuk hidup membenahi diri. Mau dengar sedikit ceritaku tentang ini?
Kabarnya, saat gempa besar terjadi, jalanan itu terbelah, lalu keluarlah cairan lumpur yang menggulung manusia, rumah dan kendaraannya hingga tersedot, lalu dimuntahkan kembali tak bersisa. Kalau kau tahu kawan, kampung/daerah yang terjadi likuifaksi itu, berubah menjadi gunung -- setinggi pohon kelapa. Isinya? Manusia. Apa itu tidak ngeri.
Astagfirullah.
Di lain tempat, rumah dan manusia hanyut berpindah tempat sama tergulung lumpur yang katanya sekarang entah menjadi danau atau sungai?
Peristiwa likuifaksi yang terjadi di kota kita ini merupakan yang terbesar di dunia. Berapa orang yang hilang? Berapa luas tanah kampung yang hilang? Terjadi sekali dalam sepersekian detik. Hanya kuasa NYA yang bisa membuat semua ini terjadi.
Tiada maksud apa pun menceritakan ini. Tetapi, kalau kita mempelajari Al Quran dijelaskan tentang ini. Mungkin kita juga tahu sejarah daerah yang ditenggelamkan ALLAH SWT dalam kisah nabi luth? Saya tidak ahli hadist. Kalian mungkin lebih tahu, atau kalian juga bisa kaji dan cari sendiri. Gempa dan tsunami mungkin adalah bencana dari ALLAH, tetapi lumpur? Ada pesan mendalam, dalam sebuah musibah.
Tak ada niat mau mencela saudara saudara kita yang ditimpa musibah itu. Tapi begitulah yang kabarnya terjadi. Semoga kau tahu, kalau musibah yang datang tidak segampang dan sebiasa yang kau kirakan. Mungkin kau berpikir kalau di kota ini terlalu banyak maksiat yang dikerjakan manusianya, lalu kau menghakimi dengan suara lantang seolah olah kalian sudah yang paling suci? Baiklah mungkin iya, hanya kalian dan Tuhan kalian yang tahu.
Tetapi ketahuilah satu hal, tidak ada manusia yang sempurna. Apa yang terjadi pada orang lain, apa yang terjadi ditempat lain, dipertontonkan Tuhan kepadamu agar kau bisa lebih peka. Jika salah berubah, jika belum bertobat segera bertobat, jangan menjadi sombong di dunia karena bagi Tuhan bumi dan kita -- manusia bukanlah apa apa.
Tidak semua orang -- mereka mereka yang telah tiada meninggal dalam keadaaan mati syahid, dan hanya saja doakan mereka sebagian lainnya semoga khusnul khatimah.
○1 Oktober
KETERTAKUTAN, KEHILANGAN DAN YANG KAU TAHU TENTANG PENJARAHAN
Sedikit tentang ini, entah siapa yang mempeloporinya pertama kali. Mungkin karena kondisi saat itu. Sebagian orang rumahnya hancur, sebagian orang terkena musibah lumpur, sebagian orang kehilangan keluarganya, banyak ada yang tinggal sebatang kara seluruh keluarga dan hartanya hilang tak bersisa. Kalian dengan seenak mulut bilang kalau yang menjarah ini buruk etika. Kalian hanya tidak di sini. Kalian hanya tidak bersama kami saat itu. Kalian pikir segampang itu malwan ketertakutan dari perasaan manusia yang ingin bertahan hidup?
Ada malah yang bilang, menyimpulkan "kalau orang yang terkena bencana tidak akan ada niat untuk mencuri. Melakukan penjarahan semacam itu" memang benar. Namun saat itu, ada yang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Bahkan ada di suatu tempat, mereka sempat sempatnya mencuri tv milik tetangganya sendiri. Walau sebagian lain, ada yang mengambil makanan, obat obatan dan pakaian dari beberapa toko yang sudah ambruk untuk bertahan hidup.
Sedih kawan.
Banyak bantuan yang mengalir tapi begitu terlambat sampai kepada kami.
Saya mungkin tidak terlalu butuh. Tapi saat itu, hujan sering terjadi di malam hari dan kami tidak punya terpal. Saya pun sampai mencari hingga ke BASARNAS dan DEPSOS tapi nihil.
Mereka yang menjarah pun tak sepenuhnya sejelek yang kau fitnahkan. Mereka membagi susu untuk anak anak bayi, mereka membagi biskuit dan mi instan untuk tetangganya. Gunanya adalah untuk bertahan hidup paling tidak sampai bertemu hari selanjutnya.
Betapa sedih untuk mereka yang memanfaatkan situasi ini, dengan mencuri yang tidak perlu. MengambMengambil tas jinjing, sepatu hak tinggi, ponsel dan yang lain yang tak perlu sama sekali di saat bencana. Apa yang ada di otak orang orang itu? Mereka masih berpikir untuk menyimpan barang barang itu untuk digunakan setelah bencana usai? Bagaimana kalau kiamat hari ini? Sungguh manusia tidak tahu malu. Dia bahkan tidak takut dengan Tuhannya.
Saya sempat keluar dari Palu saat itu. Karena tidak sanggup bertahan, karena lambatnya bantuan sampai di kami. Paling tidak terpal untuk berlindung dari hujan dan saya punya anak yang kasian sekali kalau harus melewati hidup seperti itu. Miris. Sepanjang perjalananan menuju selatan saudara saudara kita seperti pengemis meminta minta dijalanan dan bantuan hanya melewati mereka.
Hari itu, sekali pun merasa kekurangan pantaslah kita bersyukur atas apa pun. Karena sekurang kurangnya kita, masih ada yang lain yang paling kekurangan. Hari ini palu masih terus gempa. Hari ini anak anak masih menangis ketika gemuruh terdengar. Laut yang dulu jauh, kita sudasudah sangat dekat. Daerah Laut yang dulu manusia timbun dengan niat reklamasi telat lautan rebut kembali. Air laut meluap luap lebih banyak seperti menegaskan kalau pulau kita sedikit turun. Entah.
Kita akan bangkit.
Pelan pelan.
Kita akan baik baik saja. Walau sedikit susah, tapi kita bisa.
Semoga kita cepat sembuh.
Semoga palu cepat membaik.
Dan, untukmu kawan. Ingatlah palu.
Jika sekali saja kau ingin berniat melupakan tuhanmu dan melalaikan ibadahmu, ingatlah palu.
Butuh dua puluh tiga tahun aku melihatnya tumbuh hingga hari ini, tak butuh satu detik untuk Tuhan meluluhlantakkan semua yang dikehendakinya tanpa sisa. Kita, harta kita, orang yang kita sayangi, semua tidak ada apa apanya. Sudah sebaik apa tuhanmu yang ketika kau lalai selalu memberi toleransi. Kali ini mungkin masih ada maaf, tapi lain kali. .. Mungkin sudah tidak ada ampun.
Jangan sia sia kan kesempatan jika kau masih diberi keberuntungan untuk hidup membenahi diri.
----------------------------
Dari aku,
Yang menyaksikan Palu hari itu,
Yang terluka dengan trauma yang dalam.
Thursday, September 20, 2018
CUIT-CUIT 40 TAHUN USIA KOTA PALU #2018 #TerkamTrenLokal #HUT40KotaPalu
Gak kerasa ya, udah 40 tahun aja kota ini. Umur boleh saja bertambah. Kita pun boleh saja menua. Tapi, semangat anak muda itu pasti masih ada di dalam diri kita, entah berapa pun usia kita nantinya. Ada yang bilang kalau anak muda itu bukanlah tentang berapa angka usianya, melainkan tentang semangat dalam diri seseorang yang terus berkobar. Saya setuju! Sampai hari ini, walau udah berubah kondisi, dan kelihatannya mungkin sudah tidak muda lagi 😂 tapi tetep, saya merasa kalau saya tetaplah anak muda.
Menyikapi, tentang permasalahan yang dipertanyakan soal: "Palu ini susah maju, pembangunan tidak berkembang, pemikiran belum terbuka, dll" saya kira ini mungkin persoalan dulu sekali ya. Mungkin waktu usia saya masih belasan saya juga berpikir sama tentang ini. Kalau ditanya alasannya kenapa, pasti jawabannya simpel. Di usia muda kita, kita lebih rentan peka terhadap sesuatu. Semangat kita gede, sebesar mimpi kita dan harapan kita buat bikin sesuatu untuk kota ini. Dan karena kita merasa kurang mendapat dukungan, maka muncullah pemikiran seperti itu.
Ditengok dari jauh hari yang dulu hingga hari ini, saya kira hari ini sudah sedikit lebih baik dari kemarin. Mungkin masih ya, Palu susah maju. Begini-begini aja. Komunitas banyak, tapi musiman. Kadang muncul, kadang ilang lagi. Pasang surutnya tak tertebak.
Tapi, soal pembangunan saya kira Palu sudah mulai sedikit berkembang. Buktinya, banyak tempat-tempat berekspresi untuk anak muda mulai disediakan, dan diperbaharui. Gunanya ya agar anak muda kota Palu bisa lebih bebas mengekspresikan dirinya.
Hari ini, sosial media menjadi patron nomor satu. Tak heran, peran anak muda sebagai influencer untuk anak muda lainnya juga lebih besar. Yang saya lihat secara tidak langsung sih, sekarang peran fotografi ya yang lebih besar pengaruhnya dalam tren pergaulan anak muda hari ini. Masing-masing berlomba-lomba menghasilkan karya yang bagus lewat media ini. Yang akhirnya, membuat anak muda kita ternilai lewat kepopulerannya di dunia maya.
As we know lah, peran sosial media sekarang lebih besar dibandingkan apa pun.
As youth we can easy to show up what we can do, apa yang menjadi bakat kita, apa yang menjadi minat kita, pokoknya lebih mudah diekspresikan lewat sosial media. Contohnya saja mungkin yang paling buming adalah instagram. Melalui profil, kita bisa tau bagaimana kepribadian seseorang lewat caranya memposting isi akunnya.
Soal pemikiran yang belum terbuka, saya rasa ini juga udah sedikit mulai ter-solve. Melihat, banyak karya-karya anak Palu yang mulai berkembang satu per satu, baik di dunia permusikan, perfilman, penulisan, fotografi, dan masih banyak lagi. Banyak karya yang sudah terealisasikan, walau mungkin yang kurang adalah bagian publikasinya yang belum maksimal, sehingga tak seluruh orang tahu secara pasti dan sekilas doang. Entah dari mulut ke mulut, apa lewat postingan orang yang juga cuman sebersit.
Mungkin sekarang yang paling sulit adalah interaksi. Kita lebih cenderung menjadi anti sosial. Bukan karena kita tidak mau bergaul, tapi mungkin karena kita sedikit ragu, apakah akan diterima lebih mudah oleh orang lain lewat karya yang suka kita kembangkan.
Kekuatan sebuah kota itu terletak di kita - anak mudanya. Keindahan sebuah kota itu terletak juga di kita - dari karya yang kita buat. Tidak semua anak muda punya bakat yang sama. Masing-masing punya hal yang mereka gemari dan berkembang dari hal itu untuk membentuk bakat mereka.
Anak muda dengan bakat cenderung mandiri dan gigih. Paling bahagia memang mengerjakan sesuatu dari hal yang kita senangi.
Menyambut ulang tahun kota Palu yang ke 40 tahun, kalau ditanya apa saja harapan buat kota ini, ya mungkin saya berharap kita bisa menjadi diri sendiri terlebih dahulu. Belajar mencintai diri sendiri. Belajar mengekspresikan apa yang kita sukai tanpa harus terpengaruh oleh orang lain. Karena saat kita berhasil, kita bangga bisa membawa nama kota tempat kita tinggal juga.
Jangan pernah takut tuk memulai sesuatu, karena sesuatu yang dimulai dari kita, adalah untuk kita juga. Untuk kota kita di masa depan. You know what, someone -- a person can becomes a great one because they learnt from their experiences.
Kamu suka fotografi, kota ini saya rasa pelan-pelan sudah menyediakan tempat-tempat bagus sebagai pendukung. Kamu suka menggambar, kota kita punya beragam komunitas seni yang hebat-hebat juga. Kamu suka menulis, kota kita juga punya banyak orang-orang yang berpengalaman dan baik-baik hatinya untuk berbagi seandainya kalian butuh.
Sekali lagi, yang kurang dari kita hanya interaksi. Kita punya semuanya yang luar biasa di kota ini, yang kurang hanya kecakapan kita dalam bergaul, mencari tau, berbagi cerita, berbagi ilmu dan berkenalan. Itu aja.
Jika berpikir memulai sesuatu akan merugikan, take and think the positives. Dengan berani maju melakukan sesuatu lebih dulu, kita sudah bisa mendapatkan tiga hal spesial yang belum tentu bisa juga di dapatkan oleh orang lain. Apa saja?
1) Steps - dengan berani memulai tanpa menunggu kita sudah berani mengambil langkah untuk membuat satu perubahan kecil melalui diri sendiri,
2) Learning - dengan memulai lebih dulu, kita bisa belajar tentang banyak hal yang membuat kita lebih cakap dan peka dengan keadaan kota tempat kita tinggal. Kita bisa belajar peduli, dengan kondisi lingkungan, pergaulan dan bagaimana kita bisa belajar untuk mengembangkan bakat, hal kita sukai ke publik agar lebih bebas berekspresi dan menjadi lebih bermanfaat.
3) History - yang paling berharga adalah ini. Tidak sedikit orang yang udah berkarya tapi berakhir begitu aja. Palu kota kecil emang, tak heran kalau bentuk penghargaannya terhadap karya juga kecil. Jangan sampai ini bikin semangat kita ciut. Bodo amat sama orang lain. Setidaknya kita sudah berbuat. Pernah berbuat! Dan itu sudah membuat sejarah, kalau kita pernah ada di kota kecil ini. Kalau tak berbekas untuk orang lain tak apa. Akan tetap ada, terkenang, berbekas untuk kita, di waktu, di masa muda kita dan bisa untuk pengalaman dibagi lagi ke anak-anak kita di masa depan.
Semoga, dengan semakin bertambahnya usia, kita yang tinggal di dalam kota berkembang yang akan terus menua ini, bisa lebih sedikit peka dan membuka mata. Melihat, ada banyak orang lain, anak muda dan para "semangat muda" lainnya yang juga sama-sama ingin kota ini menjadi lebih baik ke depannya dengan karya dan mimpi-mimpi beragam dari anak muda lainnya.
Mungkin setelah menulis ini, yang membaca pasti bakalan berpikir, aku ini siapa ya sok tau nulis ini itu 😂 no one knows me, and i know! Sekarang udah lewat jaman tren kita dulu but it's okay! We grow up!
And it's time to us to seeking for answer, to open mind and let others know who we are and what we're going to be.
Because, before the brand new one comes, always there an old one made history.
Dan untuk kota yang kecil ini, semoga harapan kita bisa terwujud satu-satu bersamaan dengan aksi kita juga. Jika bukan kita, lalu siapa lagi? Tak perlulah nama kita diingat, tetapi kenangan kita pernah berbuat sesuatu untuk kota ini akan selalu menjadi kenangan kalau kita pernah di sini, dan kita tumbuh dewasa di sini.
Regards,
Hanna Enka
@ahitshanna
*******
Wednesday, May 3, 2017
PERGI - Short Scene
Laki-laki itu duduk seorang diri. Di antara keramaian hura-hura tahun baru, ia terlihat begitu terpuruk. Perempuan itu menatapnya dari jauh. Warna abu-abu menggambarkan suasana hati orang yang sedari tadi diperhatikannya.
Perempuan itu meremas ponsel. Hendak berjalan pergi menjauh. Ia menyesali setiap keputusan yang telah diambilnya.
Laki-laki itu tertawa getir. Ia tahu kalau perempuan itu ada di sana, menatapnya dari jauh sambil menyesali keputusannya tuk pergi.
"Apalah dayaku, semua sudah terlambat! Seharusnya akhir tahun menjadi kenangan yang paling tak terlupakan bersamanya."
Laki-laki itu memejam. Sekelilingnya terdengar begitu bising akan keramaian -- suara klakson kendaraan yang lewat, suara terompet yang ditiup bersahut-sahutan, musik meriah membahana dari pengeras suara dan letusan petasan yang datang silih-berganti.
Hatinya terlalu kosong. Meredakan keinginannya untuk menikmati hari itu. Dan ia bertanya, "kenapa sebuah perpisahan selalu harus berakhir dengan kesedihan?"
***